Monumen Nasional Skotlandia yang berdiri megah di puncak Calton Hill, Edinburgh, dibangun sebagai simbol penghormatan bagi para prajurit Skotlandia yang gugur dalam Perang Napoleon. Namun, alih-alih menjadi bangunan monumental, bangunan neoklasik ini justru dinilai sebagai salah satu proyek paling memalukan dalam sejarah arsitektur Skotlandia.
Melansir Edinburgh Guide News, Selasa (20/1/2026), Monumen Nasional Skotlandia merupakan bangunan mencolok yang mendominasi Edinburgh di sebelah timur pusat kota. Nama besarnya berbanding terbalik dengan sejarahnya. Monumen ini tak pernah selesai dibangun akibat kekurangan dana, meski sejak awal dirancang dengan ambisi yang luar biasa.
Struktur raksasa yang berdiri di atas Calton Hill ini telah terbengkalai selama hampir dua abad. Meskipun begitu, monumen itu menjadi daya tarik akan simbol ikonik Edinburgh, sekaligus pengingat akan proyek ambisius yang gagal diwujudkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gagasan awal dibangunnya Monumen Nasional Skotlandia, muncul pada 1816 sebagai penghormatan bagi para prajurit yang gugur dalam Perang Napoleon. Rencana besarnya adalah membangun replika Parthenon di Athena kuno, dengan setiap batu dirancang memiliki ukuran yang sama persis seperti bangunan aslinya di Yunani.
Monumen ini dirancang pada tahun 1823 hingga 1826 oleh dua arsitek ternama pada masanya, yakni arsitek Inggris Charles Robert Cockerell dan arsitek neo-klasik terkemuka Edinburgh, William Henry Playfair. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting yang membentuk wajah arsitektur kota pada era Pencerahan.
Dilansir dari Edinburgh World Heritage, peletakan batu fondasi pertama dilakukan pada 27 Agustus 1822, bertepatan dengan kunjungan Raja George IV ke Skotlandia. meski sang raja sendiri tidak menghadiri upacara tersebut. Pembangunan fisik baru benar-benar dimulai pada 1826 dengan proses yang sangat berat dan menantang.
Pembangunan monumen ini melibatkan upaya luar biasa, termasuk penggunaan 12 ekor kuda dan 70 orang untuk mengangkut ambang pintu kolosal ke puncak Calton Hill. Batu tersebut bahkan tercatat sebagai potongan batu terbesar yang pernah ditambang di Skotlandia pada masa itu.
Kendala terbesar proyek ini adalah pendanaan. Dari anggaran awal sebesar Β£ 42.000 atau sekitar Rp 958 juta (kurs Rp 22.810), kurang dari setengahnya berhasil dikumpulkan melalui penggalangan dana publik. Akibatnya, pembangunan terpaksa dihentikan pada 1829, hanya menyisakan dua belas kolom Dorik kolosal yang berdiri hingga kini.
Kondisi setengah jadi tersebut membuat Monumen Nasional Skotlandia menjadi sasaran kritik tajam. Para pengamat dan warga menjulukinya sebagai aib nasional dan kebodohan Edinburgh karena monumen yang seharusnya menjadi simbol kehormatan justru mencerminkan kegagalan perencanaan dan pendanaan.
Meski tak pernah rampung, monumen ini tetap dipelihara secara aktif oleh lembaga pelestarian warisan budaya. Pada 2008, Edinburgh World Heritage bahkan menggelontorkan dana lebih dari Β£ 100.000 atau Rp 2,2 miliar untuk memperbaiki salah satu ambang pintu. Upaya ini dilaksanakan untuk memastikan monumen yang lahir dari niat mulia ini tetap berdiri sebagai saksi sejarah, meskipun keberadaannya disebut menjadi aib negara.
(das/das)










































