Di antara gedung-gedung bertingkat, ada banyak kampung padat penduduk yang berdiri di pusat Jakarta. Salah satu Kampung kumuh terletak di bantaran kali yang terhubung dengan Sungai Ciliwung.
Kampung tersebut berada di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Warga yang tinggal di kampung ini disuguhkan dengan pemandangan Kali Krukut tepat di depan rumahnya, maka dari itu disebut sebagai 'Kampung Riverside' di tengah Jakarta.
Tim detikProperti berkesempatan untuk mengunjungi kampung riverside di Kebon Kacang pada Kamis (15/1/2026) pagi. Meski Jakarta diguyur hujan sejak malam, tapi tidak mematahkan semangat kami untuk menjelajah kampung kumuh dan padat penduduk itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelusuran dimulai dari Jalan Lontar Raya, tak jauh dari Kantor Lurah Kebon Melati. Saat pertama kali masuk ke gang kecil menuju kampung riverside, terlihat sejumlah warga tengah asyik mengobrol. Tak lupa kami menyapa dan izin untuk menelusuri kampung tersebut.
Semakin masuk ke dalam kampung, suasananya justru malah tenang. Kemungkinan besar karena berada di pinggir kali dan jauh dari jalan raya, sehingga tidak terdengar berisik kendaraan seperti di kampung kumuh pada umumnya.
Lebar gang di kampung riverside tidak lebar, kurang lebih hanya 1 meter saja. Jika ada orang yang berjalan dari lawan arah, maka badan harus agak dimiringkan agar bisa dilalui dua orang.
Selain lebar gang yang sempit, terdapat juga mesin cuci dan kompor yang diletakkan di luar rumah, tepatnya di pinggir kali. Yap, warga kampung riverside di Kebon Kacang memilih memasak dan mencuci pakaian di pinggir kali.
Kompor milik warga yang terletak di depan kali. Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom |
Salah satu warga kampung riverside di RW 09, Kebon Kacang, Afifah mengatakan banyak warga yang memilih menaruh dapur di depan rumah. Alasan utamanya karena keterbatasan ruangan di dalam rumah, sehingga mau tak mau dapur dibangun di pinggir kali.
"Cuma memang sebagian warga masih masak di luar karena dapurnya nggak cukup dibangun di dalam rumah," kata Afifah saat ditemui di lokasi, Kamis (15/1/2026).
Afifah menyebut banyak warga yang memilih membuat kamar mandi di dalam rumah agar lebih aman dan privasi. Meski begitu, ada juga sebagian rumah yang tidak punya kamar mandi dalam sehingga memanfaatkan WC umum.
"Sekarang hampir banyak warga yang punya kamar mandi dalam, tapi ada juga WC umum cuma jumlahnya sekarang sudah jarang, ada beberapa di paling depan WC umum," paparnya.
Meski harus memasak di pinggir kali yang terkadang bau dan penuh sampah, warga tidak mempermasalahkan hal itu. Saat kami berkunjung, terlihat beberapa warga tengah menggoreng ayam dan merebus sayuran untuk disantap sebagai hidangan makan siang.
Salah satu warga tengah memasak di depan kali. Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom |
Untuk mencuci pakaian, banyak warga telah menggunakan mesin cuci yang diletakkan di depan rumah. Sebagian lainnya memilih mencuci dengan cara manual alias digosok menggunakan tangan.
Usai dicuci, pakaian langsung dijemur di depan rumah yang menghadap langsung ke kali. Jika pakaian tidak digantung dengan benar maka risiko jatuh ke kali dan hanyut terbawa arus air.
Mengenai ketersediaan air bersih, Afifah menyebut warga di kampung riverside Kebon Kacang menggunakan air tanah yang dibor. Jadi, tak ada lagi warga yang menggunakan air kali yang kotor untuk mencuci baju.
"Kalau air bersih kita pakai air tanah, jadi kita ngebor dulu. Kita juga nggak beli dari tukang air bersih keliling," ungkap Afifah.
Untuk kebutuhan listrik, Afifah mengatakan ada banyak warga yang rumahnya masih menggunakan daya 450 VA, tapi ada juga yang mengusung daya 900 VA. Sebagian rumah lainnya bahkan telah menggunakan token listrik.
"Kalau listrik tergantung, ada yang masih 450 VA, ada yang 900 VA, ada yang token. Kalau saya masih subsidi dari pemerintah," imbuhnya.
(ilf/zlf)













































