Pengembang perumahan semakin gencar berinvestasi di wilayah sekitar Jakarta, terutama di Tangerang. Sebab, Jakarta dinilai sudah sangat padat sehingga sulit mencari lahan untuk membangun hunian.
Di kawasan Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, sejumlah kota satelit yang dikelola pengembang swasta terus tumbuh, mulai dari Bintaro Jaya, Alam Sutera, BSD City, dan Gading Serpong. Kota ini memiliki fasilitas yang lengkap sehingga memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Misalanya Gading Serpong yang luasnya mencapai 2.000 hektare. Kota satelit ini memiliki basis ekonomi dan terintegrasi secara master plan, sehingga terbentuk suburban yang saling terhubung antara tempat tinggal, pusat komersial, dan ruang interaksi sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain membangun hunian, Gading Serpong juga menawarkan area komersial seperti blok rumah toko (ruko). Pertumbuhan fasilitas komersial juga sejalan dengan aktivitas bisnis yang semakin berkembang karena di kawasan ini telah dihuni lebih dari 120.000 jiwa.
Country Head konsultan properti JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan properti komersial masih menjadi penopang utama kinerja pasar properti di tahun mendatang. Ia menilai pasar komersial akan terus tumbuh dan berkelanjutan dari tahun sebelumnya.
"Meskipun aktivitas relatif moderat, tren permintaan dan prospek ekspansi di wilayah penyangga Jakarta tetap menunjukkan perkembangan yang meyakinkan," kata Farazia saat Media Briefing 'The Next Chapter of Indonesia Real Estate' pada Oktober 2025, dikutip dari keterangan resmi Paramount Land, Selasa (13/1/2026).
Menurut Farazia, investasi properti di pinggir kota semakin diminati karena dapat menawarkan kombinasi antara kenyamanan hidup dan potensi investasi jangka panjang. Selain itu, kemajuan infrastruktur di pinggir Jakarta membuat kawasan sub urban diprediksi akan menjadi pilihan utama hunian di masa depan.
"Sebab itu, tren ini menjadi langkah penting bagi masyarakat dan investor dalam menentukan strategi kepemilikan aset properti yang tepat. Kawasan suburban memiliki peluang investasi yang menjanjikan dengan risiko relatif terukur," tuturnya.
Kini, Gading Serpong terus berkembang secara pesat dengan lebih dari 40 klaster sudah dihuni, fasilitas umum yang lengkap, kehadiran transportasi umum yang terintegrasi, jalan boulevard yang luas sehingga dapat dilalui lebih dari 15.000 kendaraan per jam, dan tingkat okupansi bisnis yang sangat tinggi.
Kawasan Maggiore yang digarap Paramount Land dikenal sebagai pionir destinasi kuliner di sisi selatan Paramount Gading Serpong. Kawasan ini telah berkembang dengan munculnya ratusan bisnis, mulai dari supermarket, makanan cepat saji, restoran keluarga, kedai kopi, hingga pusat kebugaran (gym).
Direktur Sales & Marketing Paramount Land Chrissandy Dave menyebut keberhasilan penjualan ini membuktikan tingginya permintaan pasar untuk area komersial di Gading Serpong. Konsep komersial terpadu yang menggabungkan fresh market, pusat kuliner, dan area komersial (ruko) dinilai mampu memikat investor dan pelaku usaha.
Kampanye 'Everything is Here' juga berperan besar karena menawarkan lokasi strategis yang dikelilingi tiga pengembang besar dan terhubung langsung dengan akses Gading Serpong-BSD. Di sisi lain, captive market yang besar dari hunian di sekitarnya membuat penjualan unit komersial laris manis.
"Kami selalu melakukan riset komprehensif dalam menghadirkan produk komersial yang dibutuhkan dan disukai masyarakat. Januari 2026 ini kami akan menghadirkan area komersial baru," imbuhnya.
