Spanyol memiliki banyak kota besar dan modern seperti Madrid dan Barcelona. Di antara kota-kota besar itu, ternyata ada sebuah kota mati yang telah ditinggal penduduknya selama puluhan tahun.
Kota mati tersebut bernama Pueblo Viejo de Belchite atau biasa disebut Belchite. Kota ini terletak di Provinsi Zaragoza, wilayah Aragon, jaraknya sekitar 50 kilometer dari kota Zaragoza.
Dilansir dari Fascinating Spain, Rabu (7/1/2026), Belchite dulunya merupakan kota kecil yang terus berkembang sejak Abad Pertengahan. Sebagian besar penduduk Belchite bergantung pada pertanian dan berdagang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kota ini juga menjadi tempat tinggal para ordo kesatria, yakni perkumpulan kesatria yang terorganisir dengan tujuan membela wilayah suci. Dibangun juga sebuah gereja yang memiliki arsitektur menakjubkan dengan material dari batu bata merah.
Dahulu, Belchite merupakan salah satu kota terindah yang ada di Spanyol. Namun, semua itu berubah ketika kota ini hancur akibat perang.
Pada 1936-1939, terjadi Perang Saudara Spanyol antara Pasukan Republik dengan Pasukan Nasionalis yang dipimpin Jenderal Francisco Franco. Perang ini terjadi di hampir seluruh Spanyol, termasuk kota Belchite.
Pertempuran di kota Belchite terjadi pada Agustus 1937 dan termasuk salah satu perang paling brutal dalam sejarah Perang Saudara Spanyol. Kedua pihak saling serang dengan senjata api, senapan mesin, dan bom, sehingga meluluhlantakkan Belchite yang indah.
Kota Belchite saat terjadi Perang Saudara Spanyol. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain |
Perang di Belchite terbilang singkat, tapi dampaknya sangat parah. Kota ini benar-benar porak-poranda akibat serangan bom, banyak rumah penduduk rusak dan gereja roboh. Pertempuran ini juga menyebabkan lebih dari 5.000 orang tewas dan 80 persen bangunan rusak berat.
Usai perang berakhir, kota Belchite dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun. Rumah yang roboh dan gereja yang rusak berat dibiarkan begitu saja, tak ada yang mengurus atau memperbaikinya lagi.
Kota mati Belchite, Spanyol, yang kini tinggal kenangan dan puing-puing bangunan. Foto: Wikimedia Commons/CCA 4.0/Ripoll531 |
Sejumlah bangunan yang masih berdiri di antaranya Arco de la Villa, bangunan ini disebut sebagai gerbang masuk menuju Belchite. Dulu terdapat gapura melengkung untuk menyambut para pendatang, tapi pasca perang gapura itu hancur dan tersisa puing-puing saja.
Terdapat sebuah gereja terbesar di Belchite, yakni Iglesia de San Martin de Tours. Gereja yang dibangun pada abad ke-14 itu sudah tak berbentuk lagi, bagian atap dan kubah runtuh akibat ledakan bom, sedangkan sebagian fasad dan dindingnya masih berdiri.
Ada juga sebuah biara bernama Biara San Rafael yang dibangun pada abad ke-18. Biara yang dimiliki oleh Biarawati Dominikan San Rafael itu dulunya digunakan sebagai tempat beribadah, tapi kini terbengkalai lantaran mengalami kerusakan parah akibat Pertempuran Belchite.
Satu lagi bangunan bersejarah yang tersisa di Belchite, yakni Torre del Reloj atau disebut menara jam. Soalnya, ada sebuah jam yang ditempatkan di puncak menara untuk menandakan waktu bagi penduduk Belchite.
Menara jam ini merupakan sisa dari Gereja San Juan yang terletak di tengah kota. Menara yang dibangun antara abad ke-14 dan ke-15 itu mengusung gaya Mudejar. Sayangnya, bangunan itu sudah tak berbentuk seperti aslinya dan tinggal menyisakan struktur dinding menara.
Meski sudah menjadi kota mati, Belchite ternyata jadi salah satu destinasi wisata para turis yang berlibur di Zaragoza. Walau tak ada lagi bangunan yang utuh, tapi kehancuran kota ini menjadi pengingat betapa hebatnya Perang Saudara Spanyol yang berlangsung selama tiga tahun.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(ilf/das)












































