Presiden Venezuela Nicolas Maduro berhasil ditangkap oleh pasukan elite Delta Force pada Sabtu (3/1/2026). Operasi penangkapan ini ternyata sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan bahkan sampai dibuatkan rumah tiruan Maduro.
Dilansir CNA Singapore, Selasa (6/1), pasukan elite AS membuat replika rumah persembunyian Maduro. Rumah tersebut dibuat sangat persis agar mempermudah pasukan elite ketika melakukan penyergapan.
CIA juga memiliki tim kecil yang mencari informasi tentang pola hidup Maduro selama bersembunyi. Cara ini membuat pasukan elite AS dapat menjalankan operasi penangkapan dengan lancar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, tim ini juga memiliki aset di dekat rumah persembunyian Maduro, sehingga dapat memantau pergerakan dan keberadaan orang nomor satu Venezuela itu selama operasi berlangsung.
Pasukan elite AS tiba di rumah persembunyian Maduro di Caracas, Venezuela, pada Sabtu (3/1). Trump mengatakan pasukan berhasil masuk dengan cepat ke dalam rumah yang disebut sangat dijaga ketat bagaikan benteng.
"Mereka menerobos masuk, dan mereka menerobos masuk ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak mungkin dibobol, Anda tahu, pintu baja yang dipasang di sana hanya untuk alasan ini," kata Trump.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan setelah pasukan masuk di dalam rumah persembunyian, Maduro dan istrinya menyerah. Trump mengatakan pemimpin Venezuela itu berusaha pergi ke ruang persembunyian tetapi tidak dapat menutup pintunya.
Khawatir Ditangkap AS, Maduro Sempat Tidur di Gudang-Dapur
Niat AS untuk menangkap Maduro ternyata sudah direncanakan sejak 2020 dan terakhir kali pada Agustus 2025. Kala itu, AS menawarkan bagi siapa pun yang berhasil menangkap Maduro akan mendapat hadiah US$ 50 juta atau sekitar Rp 835 miliar (kurs Rp 16.758).
Maduro tentu tak bisa tenang ketika dirinya menjadi incaran AS. Alhasil, Maduro dan istrinya harus bersembunyi agar tidak diketahui keberadaannya.
Sebelum ditangkap, Maduro menjalani hari-harinya dengan penuh rasa khawatir. Ia dikabarkan harus mengganti ponsel usai melakukan panggilan telepon. Bahkan ia sampai harus pindah-pindah kamar tidur saat beristirahat di malam hari.
Dikutip dari New York Post, orang-orang terdekat Maduro mengatakan sejak Desember 2025 sang pemimpin negara itu terus merasa khawatir dan tidur kurang nyenyak. Memang, ketegangan antara AS dan Venezuela semakin tinggi menjelang akhir tahun lalu.
Sumber tersebut juga mengatakan kalau Maduro harus rela pindah-pindah tempat tidur setiap malam. Langkah ini dilakukan Maduro agar tidak terlacak oleh militer AS yang bisa saja menyerbu rumahnya secara tiba-tiba.
Maduro dikatakan harus rela tidur di ruang tamu atau pindah ke kamar tidur lainnya. Terkadang, ia memilih beristirahat di dapur hingga gudang karena tempat itu dirasa lebih aman dan dapat mengelabui tentara AS.
Nahas, usaha Maduro dengan cara pindah-pindah tempat tidur berujung sia-sia. Ia berhasil ditangkap bersama istrinya di kamar tidur pada tengah malam saat tengah beristirahat. Mereka kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan di pengadilan federal Manhattan, mengutip CNN.
Sebagai informasi, konflik antara Presiden AS Donald Trump dan Nicolas Maduro telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Trump telah mengultimatum Maduro untuk segera mundur dari jabatannya dan meninggalkan Venezuela sebagai upaya mengakhiri rezim Maduro yang berlangsung sejak 2013.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(ilf/ilf)











































