Pemerintah tengah membangun hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana. Sebanyak 600 hunian di Aceh Tamiang dikabarkan akan selesai pada 8 Januari 2026 mendatang.
Huntara ini dibangun oleh Danantara memakai lahan milik PTPN yang dipastikan land clearing. Total akan ada 15.000 unit huntara yang akan dibangun dalam 3 bulan ke depan, terdiri dari 12.000 unit di Aceh, 2.000 di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, serta 500 unit di Sumatera Barat.
Huniannya seluas 4,5 x 4,5 meter dan sudah lengkap dengan perabotan mulai dari kasur, lemari, kipas angin, kamar mandi, dan air bersih. Fasilitas lainnya adalah listrik dan Wi-Fi gratis yang bisa diakses oleh seluruh penghuni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wi-Fi dipasang oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) secara bertahap. Pada tahap awal, TelkomGroup menyediakan 28 Access Point (AP) WiFi yang terdiri dari 3 AP di area depan Huntara dan 25 AP di dalam area hunian dengan rasio setiap 1 AP menjangkau sebanyak 3 rumah.
TelkomGroup juga mencoba model 1 Access Point WiFi Managed Service (WMS) berkapasitas 100 Mbps untuk mendukung kebutuhan operasional yang berlokasi di Posko TelkomGroup Huntara. Ke depannya akan tersedia 63 AP WMS yang tersebar di seluruh area Huntara.
Untuk kesiapan layanan seluler, Telkomsel telah memastikan kapasitas jaringan yang memadai melalui dukungan Base Transceiver Station (BTS) dari wilayah Karang Baru dan Aceh Tamiang, serta pengoperasian 1 Mobile BTS (Combat) yang ditempatkan langsung di area huntara guna meningkatkan kapasitas jaringan.
"Melalui sinergi Danantara dan BUMN, TelkomGroup berkomitmen mendukung penyediaan Huntara bagi masyarakat terdampak bencana melalui ketersediaan konektivitas digital yang andal. Sinergi lintas BUMN ini memungkinkan koordinasi yang lebih cepat dan terintegrasi, sehingga manfaatnya menjadi lebih besar dan dapat langsung dirasakan oleh masyarakat," kata Direktur Utama Telkom Dian Siswarini seperti dikutip dari keterangan tertulis, pada Jumat (2/1/2026).
Sementara itu, pembangunan huntara menggunakan anggaran sebesar Rp 1 triliun dari kerja sama semua BUMN. Pembangunannya dilakukan selama 24 jam dengan melibatkan 1.635 tenaga kerja. Ribuan pekerja itu berasal dari berbagai BUMN sebagai wujud kolaborasi dan percepatan penyelesaian pembangunan.
"Dan dalam proses pembangunan ini kita mempekerjakan 24 jam 1.635 orang yang terdiri dari pekerja BUMN Karya. Ada Hutama Karya, ada Waskita Karya, Wijaya Karya, PP, Nindya Karya, dan juga Adhi Karya," ujar Rosan dalam Rapat Koordinasi di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (1/1/2026).
(aqi/das)










































