Rumah Diding Boneng yang ambruk disebabkan karena struktur bangunan yang sudah lapuk dan usia rumah yang sudah lebir dari 100 tahun. Pemicunya bukan hanya itu, menurut anak ketiga Diding, Syenny, rumah mereka juga sering mengalami kebocoran.
Lokasi yang bocor bukan hanya pada bagian rumah ambruk, melainkan merata dari depan hingga ke belakang. Kebocoran ini sudah berlangsung sejak anak-anak Diding beranjak dewasa.
"Kalau bocor itu memang udah lama banget. Mungkin dari kita menjelang dewasa itu udah mulai bocor. Memang kan ini kondisinya memang terlalu tua," kata Syenny kepada detikcom saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Pusat, pada Rabu (31/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Air yang masuk ke rumah bukan hanya tetesan, sudah seperti air mancur pada beberapa bagian. Setiap hujan mereka harus menyiapkan wadah, bahkan terkadang tidak cukup untuk menampung.
"Sebenarnya kalau setiap gerimis kita tadangin dulu bocornya. Tapi tetap aja bocor juga. Lebih besar airnya. Memang kita kan posisinya udah sama banget, rata bocor semua," ungkap Syenny.
Ketika hujan deras, beberapa kali anggota keluarganya ada yang memutuskan mengungsi sementara karena kondisi bocor yang parah.
"Memang kita berteguh gitu kalau hujan. Jadinya nggak bisa (di rumah) soalnya di sini udah rata semua bocor gitu, jadinya nggak bisa," ujarnya.
Saat hari kejadian, siang harinya di kawasan rumah Diding hujan deras. Pada saat itu Diding, Syenny, dan beberapa keluarga mereka tidak ada di rumah, berteduh di rumah saudara. Kejadian atap ambruk terjadi pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB dalam kondisi hujan sudah reda. Di rumah hanya ada abang Syenny yang tidur di salah satu kamar.
Syenny mengatakan abangnya terbangun setelah mendengar balok terjatuh dari atap. Disusul dengan bunyi dari atap. Seketika abangnya lari keluar.
"Untungnya keburu gitu kan, kalau nggak keburu, mungkin abang kena (atap roboh). Saya dulu yang pertama (ditelepon), 'Sen, ini genteng, roboh', kayak gitu kan. Memang abang nggak ngagetin bahasa itu karena saya kagetan orangnya. Saya pikir cuma satu atau dua (genteng) gitu kan. Ternyata, saya ke sini, ya Allah, ini nggak bisa berkata-kata. Saya, abang, tante, sama bapak saya, dateng kan satu-satu kan. Ya Allah, udah lemes. Lihatnya nggak bisa berkata-kata lagi," terangnya.
Penampakan salah satu bagian plafon di area depan rumah Diding Boneng Foto: Nisrina Alifah Khairani |
Berdasarkan pengamatan detikcom di rumah setelah ambruk. Atap rumah Diding Boneng pada bagian depan hingga tengah ditutupi genteng tanah liat yang diletakkan pada kerangka dari bambu. Kerangka bambu tersebut bertumpuan pada rangka kayu jati. Kemudian penutupnya terdiri dari anyaman bambu atau sering disebut bilik dan terakhir ditutup dengan sejenis bahan gypsum tetapi ukurannya agak tipis.
Pada bagian depan rumah yang masih bertahan, plafon hingga dindingnya sudah terlihat banyak noda kecoklatan bekas rembesan air bocor.
(aqi/das)











































