Kisah Keluarga 5 Generasi Tinggal di Kampung Apung, dari Engkong-Cucu

Kisah Keluarga 5 Generasi Tinggal di Kampung Apung, dari Engkong-Cucu

ilham fikriansyah - detikProperti
Sabtu, 30 Agu 2025 15:27 WIB
Selama 30 tahun warga Kampung Apung di Jakarta Barat hidup di tengah genangan yang tak kunjung surut. Rumah panggung jadi cara bertahan dari banjir abadi.
Kampung Apung di Cengkareng. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Di tengah 'kolam air' besar yang merendam Kampung Apung, terdapat sejumlah cerita menarik. Salah satunya datang dari keluarga yang sudah tinggal turun-temurun di kampung ini mulai dari kakek hingga cucu.

Susnadi, salah satu warga Kampung Apung bercerita tentang keluarganya yang sudah tinggal di kampung ini sejak lama. Pria yang akrab disapa Bang Ji'in itu menyebut sudah lima generasi keluarga tinggal di Kampung Apung.

Generasi pertama merupakan kakek dan nenek dari Susnandi yang pertama kali tinggal di Kampung Apung. Lalu ayah dan ibu Susnadi merupakan generasi kedua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu, generasi ketiga dilanjutkan oleh Susnandi dan istrinya. Generasi keempat merupakan anak Susnandi yang terdiri dari empat bersaudara. Lalu generasi kelima adalah cucu Susnandi yang juga tinggal di Kampung Apung.

"Anak pertama saya yang laki-laki sudah meninggal dunia, jadi sekarang sisa tiga. Nah ketiganya udah pada kawin semua dan udah punya anak juga, jadi saya sekarang sudah punya cucu," kata Susnandi saat diwawancara detikcom, Rabu (27/8/2025).

ADVERTISEMENT

Bahkan, kakak dan adik Susnandi pun juga masih tinggal di Kampung Apung sampai sekarang. Hanya saja mereka sudah pisah rumah dengan Susnandi karena sudah berkeluarga.

Susnandi menyebut anak-anaknya enggan untuk pindah dari Kampung Apung. Alasan utamanya karena mereka kemungkinan harus mengontrak rumah dengan harga yang mahal.

Agar bisa memiliki tempat tinggal, anak-anak Susnandi kemudian membangun rumah di atas tanah miliknya. Bang Ji'in berujar jika ia memiliki sebidang tanah di Kampung Apung lengkap dengan sertifikat tanah. Ia berujar tanah tersebut merupakan warisan dari neneknya.

"Abis bukan apa-apa, di sini tanahnya ada. Terus anak saya tanya 'Ini kayaknya tanah kopong (kosong) ya?' Saya bilang iya dan ya sudah dibangun aja rumah, tapi bapak nggak bisa bantu. Kalau sudah ada duit baru dibangun, tinggal di sini," paparnya.

Hal yang sama juga dilakukan Susnandi ketika memilih bertahan di Kampung Apung. Ia harus menggadaikan surat tanah demi bisa membangun rumah untuk tempat tinggal keluarganya.

Harga tanah yang mahal membuat Susnandi berpikir dua kali jika ingin pindah dari Kampung Apung. Sebab, uang yang dimilikinya saat itu hanya cukup untuk membeli sebidang tanah, tapi kesulitan untuk membangun rumah.

Selain pertimbangan harga tanah yang mahal, Susnandi menyebut sudah merasa nyaman tinggal di Kampung Apung karena warganya kompak. Dalam hal gotong royong, masyarakat saling bersatu padu untuk membantu.

Susnandi juga tidak ingin pindah karena kondisi lingkungan yang masih cukup baik untuk ditempati. Ia bercerita kalau kampung ini dulunya sangat asri karena banyak ditumbuhi pohon.

"Dahulu nih sebelum kayak begini, di sini tuh indah dan ada banyak pohon. Saya masih ingat tahun 80-an tuh masih sering tidur di bawah pohon rindang, di situ memang ada kuburan tapi jadi tempat main anak-anak kecil kalau sore," ujarnya.

Kampung Apung mulai terendam air sejak 1996. Awalnya ketinggian air masih cukup rendah, tapi dari tahun ke tahun debit air terus bertambah tinggi hingga kini sudah mencapai 2 meter.

Agar bisa bertahan hidup, warga Kampung Apung membangun rumah panggung di atas tempat tinggalnya yang lama. Beberapa warga membangun rumah tapak permanen dari material bata ringan, tapi ada juga yang menggunakan material kayu karena kondisi ekonomi yang tidak mencukupi.

Kini, warga Kampung Apung tetap bertahan hidup di atas genangan air yang sudah merendam lahan kuburan selama hampir 30 tahun.




(ilf/ilf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads