Ada sebuah permukiman warga di Jakarta yang terus tergenang air. Mirisnya, air tersebut seolah abadi karena tidak pernah surut selama puluhan tahun.
Nama kampung tersebut adalah Kampung Apung di Cengkareng, Jakarta Barat. Kampung ini sudah terendam banjir selama hampir 30 tahun.
Dulunya kampung tersebut ditumbuhi banyak pohon sehingga terasa asri. Kampung Apung juga kerap dikunjungi anak-anak untuk bermain saat sore, mulai dari bermain bola hingga layangan. Namun, semua keceriaan itu berubah ketika air terus merendam kampung itu sampai tenggelam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Air yang menggenangi Kampung Apung bukan datang secara tiba-tiba. Rudi selaku mantan ketua RT Kampung Apung mengatakan air mulai merendam permukiman warga sejak 1996. Sejak saat itu, debit air terus naik hingga akhirnya merendam seluruh kampung.
Penyebab awal air merendam Kampung Apung karena berdirinya kompleks gudang di sekitar permukiman sekitar 1980-an. Kala itu, daerah tersebut memang sering tergenang air saat hujan sehingga banyak gudang yang terus menguruk tanah agar lebih tinggi.
Selain itu, Jalan Kapuk Raya juga ditinggikan dari tahun ke tahun agar tidak tergenang air. Sayangnya, lahan rumah warga justru tidak ditinggikan dan akhirnya kalah tinggi dengan dataran sekitar. Ketika turun hujan, alhasil air tidak dapat mengalir ke selokan dan terus mengendap.
"Dulunya itu daerah resapan air tuh (sambil menunjuk sebuah bangunan), tapi diuruk tahun 80-an dan jadi kawasan industri pergudangan. Ini juga jalan raya sudah ditinggiin hampir 2 meter lebih, jadi sekarang lahan ini (Kampung Apung) yang paling rendah," kata Rudi saat diwawancara detikcom, Rabu (27/8/2025).
Akibatnya, lahan kampung yang luasnya sekitar 1,5 hektare itu terus terendam banjir dari tahun ke tahun. Semula air yang menggenang hanya 100 cm, tapi kini sudah mencapai hampir 2 meter.
Rudi berujar dulunya Kampung Apung berada di kawasan dataran tinggi. Sejak pertama kali tinggal di sini, Rudi mengaku tempat tinggalnya belum pernah terendam banjir sebelum akhirnya berdiri bangunan gudang di sekitar kampung.
Selain berada di dataran rendah, buruknya selokan air juga membuat air yang menggenang tidak bisa keluar dari Kampung Apung. Ketika hujan deras melanda, kampung tersebut bisa terendam banjir hingga 1 meter.
"Sebulan pernah banjir di sini, nggak kering-kering. Saya ingat banget 2002, banjir sebulan dari 26 Januari sampai tanggal 26 Februari, listrik juga padam waktu itu," ujarnya.
Sekarang, warga Kampung Apung mulai sedikit lega karena masalah tersebut perlahan mulai diatasi dengan kehadiran pompa air di pinggir Kali Angke. Pompa tersebut dapat menyedot air banjir di sekitar Kelurahan Kapuk, sehingga banjir tidak berlangsung selama berhari-hari.
"Sekarang kalau banjir enggak kayak dulu yang bisa 2 minggu, sekarang bisa 2 hari banjir udah surut. Jadi saat banjir selalu disedot (airnya) dan dibuang ke kali. Pokoknya selama air kali masih di bawah tanggul aman, tapi kalau sudah tinggi wah repot," pungkas Rudi.
(ilf/das)