Dari sekian banyak perumahan padat penduduk di Jakarta, ada sebuah kampung kecil yang kondisinya memprihatinkan. Kampung itu telah dilanda banjir hingga puluhan tahun, namanya adalah Kampung Apung.
Kampung Apung terletak di RT 10/RW 01, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Lokasinya juga tidak jauh dari Jalan Kapuk Raya, hanya sekitar 100 meter saja menuju Kampung Apung.
Akses masuk ke kampung tersebut dapat melalui gang kecil di pinggir jalan raya. Dari ujung gang pun sudah terlihat sejumlah rumah panggung yang berdiri di atas lahan yang terendam air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat tim detikProperti berkunjung ke Kampung Apung, kami harus melalui jalan setapak yang terbuat dari beton. Ada rasa was-was karena jalan tersebut tidak dilengkapi pembatas jalan. Warga bisa saja tercebur jika tidak fokus saat berjalan atau mengendarai motor.
Air yang merendam Kampung Apung kondisinya sangat buruk karena tampak hijau dan keruh. Lalu, terdapat banyak eceng gondok yang tumbuh di beberapa sudut kampung.
Mantan ketua RT 10 Rudi Suwandi mengatakan Kampung Apung dulunya merupakan perumahan warga yang sejuk dan asri karena ditumbuhi banyak pohon. Namun, semua itu berubah ketika kampung ini mulai terendam banjir selama hampir 3 dekade.
"Saya rasa (kampung) ini dari mulai tahun 90 pertengahan. Kira-kira tahun 1995-1996 itu tuh udah kerendam. Tapi enggak langsung terendam seperti sekarang, pelan-pelan dan akhirnya kayak sekarang," kata Rudi saat diwawancara detikcom, Rabu (27/8/2025).
Rumah warga di Kampung Apung kini dibangun dengan model panggung. Sebab, bangunan rumah yang lama sudah terendam air hampir setinggi 2 meter.
Ada beberapa rumah warga yang dibangun secara permanen menggunakan bata ringan (hebel). Namun, ada juga rumah warga yang menggunakan material kayu untuk fondasi rumah panggung.
Warga membangun rumah panggung di atas rumah lamanya yang sudah terendam banjir. Atap rumah dijebol, kemudian ditambahkan fondasi untuk rumah panggung agar kokoh. Rata-rata rumah di Kampung Apung terdiri dari dua lantai, tapi ada juga yang tiga lantai.
Sebenarnya, Kampung Apung tidak jauh berbeda dengan kampung padat penduduk pada umumnya di Jakarta. Terdapat mushola, rumah belajar, hingga warung. Hanya saja, kampung ini berdiri di atas genangan air yang menggenang selama 30 tahun.
Rudi menyebut kampung ini sebenarnya bernama Kampung Kapuk Teko, tapi lebih terkenal dengan julukan Kampung Apung karena banyak rumah panggung yang berada di atas air. Meski begitu, Rudi dan warga tidak masalah jika tempat tinggalnya dijuluki Kampung Apung.
"Jadi kalau dulu orang bilang Kampung Apung itu salah. Biasanya kan teman-teman media nih abis ngeliput, nah mereka biasa nyebut 'habis ngeliput dari Kampung Apung'. Waktu itu juga ada LSM bantu kita dan mereka terbiasa nyebut Kampung Apung. Dari situ kita pakai nama Kampung Ampung," ujarnya.
Terdapat 127 kepala keluarga (KK) yang menghuni Kampung Apung. Rata-rata penduduk yang tinggal merupakan pendatang, tapi ada juga warga asli yang lahir dan besar di Kampung Apung.
Ada sebagian warga yang memilih pindah karena air terus menggenang, tapi ada juga yang memilih bertahan. Rudi menyebut warga yang bertahan adalah asli Kampung Apung atau mereka yang jarak rumahnya dekat dengan tempat kerja.
Warga yang tinggal di Kampung Apung juga tidak seluruhnya memiliki rumah pribadi. Ada juga beberapa orang yang mengontrak dengan biaya sewa sekitar Rp 300 ribu per bulan.
Sejak lingkungan kampung terendam air, sejumlah warga Kampung Apung terus meninggikan rumahnya dengan cara diuruk. Namun, genangan air yang terus naik dalam beberapa tahun terakhir membuat warga kembali meninggikan rumahnya.
"Kalau ada (warga) yang kuat secara ekonomi dia uruk rumahnya. Misalnya banjirnya 20 cm, dia uruk setengah meter. Tapi itu kejar-kejaran tuh, beberapa tahun kemudian, ya sekitar 2-3 tahun lagi tuh airnya udah naik lagi," paparnya.
Meski harus tinggal di kampung yang terendam air nyaris 3 dekade, Rudi mengaku tetap nyaman. Sebab, warga Kampung Apung menjunjung kekompakan dan gotong royong sehingga membuat Rudi betah dan tidak memikirkan untuk pindah.
Contohnya ketika warga saling gotong royong membuat jembatan beton untuk mengganti jembatan kayu yang rusak. Rudi dan sejumlah warga berkeliling untuk mencari dana agar bisa membangun jembatan. Kala itu, dana yang terkumpul cukup untuk membangun jembatan beton sepanjang 20 meter.
Sampai akhirnya ada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ikut membantu warga untuk membangun jembatan beton. Namun, Rudi berujar warga tidak mau jika diberikan uang tunai untuk membangun jembatan.
"Sampai kita akhirnya dapat bantuan dari LSM. Mereka mau bantu, tapi kita bingung ketika ditanya anggaran. Terus mereka mau kasih uang aja, tapi kita nggak mau juga. Kami maunya disiapkan saja materialnya, nanti kita warga yang bikin sendiri jembatannya," pungkas Rudi.
(ilf/ilf)