Revitalisasi kampung nelayan di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang membawa perubahan besar bagi kehidupan warga sekitar. Setelah tinggal di tempat kumuh, akhirnya para nelayan bisa menempati hunian yang layak.
Di balik revitalisasi kampung nelayan Tangerang, ternyata ada sejumlah cerita haru dari para warga. Dian (33), salah satu warga yang tinggal di Desa Tanjung Anom sejak kecil, mengatakan proses kepindahan ke rumah baru tidak berjalan mulus.
Dian mengungkapkan sebagian warga telah menempati rumah sebelum peresmian. Alasannya karena keterbatasan biaya untuk membayar kontrakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum peresmian itu sebenarnya belum boleh diisi. Nah, berhubung duit (kontrakan) ini, nggak ada, ya. Jadi sebelum peresmian udah pada ditempatin," ujar Dian pada detikProperti setelah acara tinjau kawasan kampung nelayan, Desa Tanjung Anom, Tangerang, Kamis (16/4/2206).
Musi (51) turut bercerita kondisi ekonomi sebagai nelayan membuat mereka kesulitan membayar kontrakan selama masa pembangunan. Biaya sewa yang mencapai ratusan ribu per bulan menjadi beban tersendiri.
"Kadang-kadang nggak ada yang kuat ngontrak. Kan namanya Rp 500 ribu, sebulan. Iya, namanya nelayan kan. Kadang-kadang dapet, kadang-kadang nggak," katanya.
Ia menambahkan, penghasilan nelayan yang tidak menentu akibat cuaca buruk menjadi alasan utama kesulitan tersebut.
"Kadang-kadang angin, sebulan. Angin terus. Ombak gede," ujarnya.
Kini, setelah menempati rumah baru, Dian dan Musi merasakan perubahan signifikan dibanding kondisi sebelumnya. Kawasan yang dulu sering dilanda banjir kini jauh lebih aman.
Sebelum pembangunan, kawasan tersebut kerap terendam banjir, terutama saat hujan deras dan air laut pasang. Namun setelah direvitalisasi, kondisi di wilayah itu mulai membaik.
Selama proses pembangunan rumah, warga sempat harus berpencar mencari kontrakan karena jumlah unit yang dibangun cukup banyak.
"(Dimana bu kontraknya?) Ya kemana aja, yang ada ngontrakan kosong aja kan, yang namanya seratus sepuluh rumah, orang bukan sedikit," ujar Dian.
Dari sisi kepemilikan, warga kini memiliki kesempatan untuk memiliki rumah sendiri melalui skema cicilan mingguan yang relatif terjangkau. Dian mengungkapkan dirinya memilih tenor panjang agar cicilan lebih ringan.
"Seminggu (cicilan) saya ngambil yang 4 tahun. Rp 160 (ribu) seminggu," jelasnya.
Ia berharap program ini benar-benar memberikan kepastian kepemilikan bagi warga yang sebelumnya hanya menumpang di lahan milik pihak lain.
Transformasi kawasan Tanjung Anom ini tidak hanya menghadirkan hunian layak, tetapi juga membawa harapan baru bagi para nelayan untuk hidup lebih aman, nyaman, dan memiliki masa depan yang lebih pasti.
