Sebuah hotel tua bernuansa klasik yang berdiri di jantung Manhattan, Amerika Serikat menyimpan kisah dramatis dari salah satu tragedi laut paling terkenal di dunia. Namanya The Jane Hotel yang bukan hanya sekadar penginapan, tetapi juga menjadi saksi bisu bagi para penyintas RMS Titanic sinking yang pernah berlindung di sana.
Bangunan di 113 Jane Street, New York City ini awalnya didirikan sebagai rumah singgah murah bagi para pelaut. Namun pada tahun 1912, tempat ini berubah menjadi lokasi penting dalam sejarah. Ketika ratusan penyintas Titanic, terutama awak kapal menggunakannya sebagai tempat tinggal sementara setelah diselamatkan dari laut.
Sejarah Hotel dan Kaitannya dengan Tragedi Titanic
Dilansir dari Situs National Geographic yang tayang pada 2012, bangunan ini dibangun pada 1908 sebagai penginapan khusus pelaut dengan tarif murah, bahkan hanya 25 sen per malam. Lokasinya yang dekat dengan dermaga membuatnya menjadi pilihan ideal bagi awak kapal yang baru tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah tragedi Titanic, lebih dari 100 penyintas tinggal di sini dan bahkan menggelar malam peringatan untuk korban yang meninggal. Para penyintas dibawa ke Manhattan melalui kapal penyelamat RMS Carpathia dan diturunkan di Pier 54 yang lokasinya sangat dekat dengan hotel ini.
Mereka kemudian tinggal di sana selama proses penyelidikan resmi di Amerika berlangsung. Hingga kini, hotel tersebut tetap mempertahankan sejarahnya dan bahkan menghadirkan kembali nuansa Titanic melalui kamar-kamar yang menyerupai kabin kapal.
Keunikan Arsitektur Bernuansa Maritim
Bangunan ini tetap mempertahankan karakter aslinya meskipun telah dipugar. Kamar-kamarnya yang kecil dirancang menyerupai kompartemen tidur di kapal, lengkap dengan kamar mandi komunal di ujung lorong, mencerminkan fungsi awalnya sebagai rumah pelaut.
Melansir Wander Wisdom News, arsitektur hotel ini menggabungkan gaya klasik Eropa dengan konsep maritim. Dirancang oleh arsitek William A. Boring, bangunan bergaya Neo Georgian ini memiliki fasad bata merah yang simetris serta menara yang menyerupai mercusuar.
Elemen-elemen tersebut memperkuat identitasnya sebagai tempat singgah pelaut sekaligus menghadirkan pengalaman menginap yang terasa seperti berada di kapal laut.
Memiliki Fasilitas Kapel dan Dianggap Angker
Sejak awal bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai penginapan, tetapi juga dilengkapi fasilitas sosial dan spiritual seperti kapel, aula konser, hingga arena bowling. Kehadiran kapel ini menunjukkan bahwa tempat tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi para pelaut yang menjalani kehidupan keras di laut.
Cerita mistis turut menyelimuti hotel ini. Beberapa pengunjung menyatakan merasakan kehadiran penghuni tak kasat mata. Meskipun tidak ada catatan resmi terkait penyintas Titanic yang meninggal di sana.
Namun, fakta bahwa para awak kapal pernah menggelar upacara peringatan di hotel ini beberapa hari setelah tragedi, menambah kesan historis sekaligus misterius pada bangunan tersebut.
Kini, The Jane Hotel bukan hanya sekadar hotel dengan nuansa vintage, tetapi juga bangunan hunian yang menghubungkan masa kini dengan sejarah kelam Titanic. Perpaduan arsitektur klasik, fungsi sosial, serta jejak tragedi menjadikannya salah satu hotel paling unik di New York.
(das/das)
