Sadar nggak sih banyak perumahan-perumahan memakai nama-nama, seperti residence, boulevard, villa, royal, park, grove, atau huis. Hal ini bukan karena nama tersebut tengah menjadi tren kekinian, tetapi ada alasan mendalam di baliknya.
Menurut Wakil Ketua Umum DPP REI Bambang Ekajaya penggunaan nama berbahasa asing pada perumahan bukan tren kekinian. Menurutnya perumahan di Indonesia sudah memakainya jauh sejak 1980-an. Saat ini, penggunaan residence, boulevard, villa, royal, park, grove, atau huis semakin lumrah.
Lantas, kenapa semakin banyak yang menggunakan nama-nama tersebut? Ini alasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Strategi Marketing
Penggunaan nama-nama berbahasa asing seperti residence, boulevard, villa, royal, park, grove, atau huis memberikan kesan perumahan eksklusif dan dipastikan nyaman tinggal di sana. Secara tidak langsung, hal ini menjadi strategi marketing untuk membuat citra seperti itu.
"Itu memang bagian dari strategi pemasaran, untuk branding sehingga kesan dari perumahan itu berbeda dengan yang lain. Misalnya dia lebih berkesan eksklusif, mewah atau stratanya menjadi lebih tinggi. Dari situ akan menciptakan lifestyle ya," jelas Bambang kepada detikcom, Senin (19/10/2026).
2. Mencerminkan Konsep dari Perumahan
Menurut Bambang sebuah nama merupakan sebuah harapan. Pengembangnya (developer) menginginkan perumahan tersebut bisa menjadi kawasan hunian yang sesuai dengan namanya.
"Karena penamaan itu kan punya harapan kan. Kalau developer juga kan harapannya apa yang akan dia bangun itu tercermin juga di nama proyek," ujarnya.
Sebagai contoh, banyak perumahan memakai nama residence. Penggunaan residence ketika konsep perumahan tersebut skala menengah ke besar dan memiliki beberapa kluster dan keamanan yang terpadu. Biasanya untuk hunian kelas menengah ke atas. Jumlah unitnya pun banyak.
Maka dari itu, nama perumahan dengan residence seharusnya mencerminkan maknanya. Jangan sampai, perumahan hanya terdiri dari 6 rumah dan bentuknya biasa saja, tetapi memakai nama residence, apalagi villa, dan royal.
Dalam kata lain, jangan hanya membesarkan namanya, tetapi rumah yang dijual tidak sesuai dengan citra, bentuk, kualitas, dan fasilitas yang ditawarkan.
"Jadi sebenarnya nama adalah satu hal tapi apa yang dia ciptakan dalam proyek itu, itu akan berbicara juga tentang kelas dari proyek itu ya. Jadi, namanya juga harus jangan keberatan. Targetnya itu harus sesuai dengan apa yang dia mau bikin kan, konsep development-nya gitu," jelasnya.
3. Menaikkan Nilai Properti
Menurutnya, pada beberapa kasus nama berpengaruh pada nilai properti. Apalagi yang rumahnya memang mewah. Namun, bukan berarti harus ada bahasa asing. Saat ini banyak perumahan yang sudah dicap elite, mewah, megah, dan mahal tanpa memakai nama berbahasa asing, seperti Pondok Indah dan Kelapa Gading Permai.
"Salah satu perumahan yang paling eksklusif di Indonesia bahkan buat Jakarta kan adalah Pondok Indah. Dan itu kan terbukti bahwa penggunaan nama Indonesia, Indah, Pondok Indah, itu cukup sukses juga dan orang menganggap itu salah satu yang fenomenal lah ya karena kan dia yang pertama di tengah kota," tuturnya.
4. Terinspirasi dari Nama Perumahan atau Daerah di Luar Negeri
Ada juga pengembang yang memilih nama berbahasa asing karena mengambil referensi dari nama perumahan atau daerah di luar negeri.
"Karena kan kita tahu bahwa owner sendiri kadang-kadang karena dia banyak tinggal di luar negeri, dia kemudian menggunakan istilah-istilah yang sering dia dengar," tambahnya.
Itulah alasan banyak perumahan menggunakan bahasa asing, seperti nama residence, boulevard, villa, royal, park, grove, atau huis, semoga bermanfaat.
(aqi/das)
