Kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (22/8) malam. Akibat kejadian tersebut, sekitar 129 rumah tradisional Suku Sasak ludes terbakar dan 320 warga terdampak.
Rumah-rumah adat di Desa Adat Sade karakter arsitektur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Suku Sasak. Bangunannya terbuat dari kayu serta beratapkan alang-alang.
Dilansir dari detikTravel, jarak antarrumah terhitung sangat dekat yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang mencolok dari status sosial. Rumah-rumah di sana dibedakan berdasarkan fungsinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah tempat tinggal di sana disebut Bale Tani. Di dalamnya ada 3 ruangan, bagian dalam untuk anak gadis memasak, bagian luar kanan untuk bapak-ibu, dan bagian kiri untuk anak laki-laki serta ruang tamu.
Pada bagian pintu masuknya dibuat agak rendah sehingga tamu yang masuk harus menunduk. Pintu tersebut dibuat seperti itu karena ada maknanya yaitu tanda untuk menghormati pemilik rumah.
Dalam jurnal yang berjudul Arsitektur Rumah Tradisional Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah karya Apriadi Resky Saputra, dkk yang diterbitkan pada 2024, disebutkan bahwa pada bagian atap rumah menggunakan alang-alang gajah yang disusun sejajar di atas anyaman bambu. Ini untuk mengalirkan air hujan ke depan rumah untuk mengurangi erosi tanah di bagian belakang.
Pemilihan alang-alang yang batangnya besar, lebar, dan kuat, bukan hanya untuk kekuatan struktural saja tetapi juga mencerminkan keberlanjutan dalam memanfaatkan sumber daya alam lokal. Apalagi, alang-alang memiliki sifat yang tahan cuaca ekstrem dan mampu meredam panas sehingga bagian dalam rumah terasa adem.
Desa Sasak Sade di Lombok tengah Foto: (Syanti Mustika/detikcom) |
Sementara itu, rangka rumahnya sendiri menggunakan 3 jenis bambu sebagai bahan dasar utama yaitu bambu galah, bambu pepit, dan bambu tutul. Bambu galah berfungsi sebagai bahan utama rangka, bambu pepit sebagai pendukung, dan bambu tutul untuk mendukung struktur agar lebih kuat. Penggunaan ketiga jenis bambu ini, berdasarkan ketersediaan yang melimpah dan fleksibilitasnya, menciptakan rangka bale tani yang kokoh, ringan, dan sesuai dengan kebutuhan fungsional serta estetika rumah tradisional.
Pada bagian dindingnya juga menggunakan bambu yang dianyam dengan beragam motif. Tiang-tiang utamanya menggunakan kayu ulin, kayu timus, dan kayu lipin karena kuat, tahan terhadap hama, dan memiliki kemampuan lentur. Penancapan tiang sepanjang 2 meter ke dalam tanah dengan pasak dalam menyambung tiang menciptakan struktur yang kuat dan mudah perawatannya.
Sementara bagian lantainya, terbuat dari campuran tanah liat, sekam padi, dan kayu. Campuran ini menciptakan fondasi yang kokoh dan sesuai dengan kondisi lingkungan.
Ada pula tradisi belulut, yang mewajibkan mengepel lantai dengan kotoran kerbau, yang menambah kekokohan dan kelembapan lantai. Selain itu, dilansir dari detikBali, membersihkan lantai dengan kotoran kerbau juga berfungsi sebagai anti serangga dan dipercaya menangkal serangan mistis.
Pemprov NTB Mau Bangun Kembali 129 Rumah di Desa Adat Sade
Terkait rumah di Desa Adat Sade yang ludes terbakar, Pemerintah Provinsi NTB akan membangunnya kembali. Mereka sedang menyiapkan skema rekonstruksi rumah adat.
"Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kami pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade," ungkap Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Minggu (23/8/2026).

