Bangunan rumah harus dipastikan aman dan kokoh agar dapat melindungi penghuninya dari berbagai risiko, termasuk bencana alam seperti gempa bumi.
Guncangan gempa dapat menyebabkan bangunan retak, bergeser, hingga roboh. Kondisi tersebut tentu membahayakan penghuni karena berisiko tertimpa material bangunan.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, potensi gempa perlu dipertimbangkan sejak tahap pembangunan rumah. Lantas, bagaimana cara membangun rumah yang lebih tahan gempa? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Hitung Kekuatan Struktur Bangunan
Direktur Mortar Indonesia sekaligus praktisi konstruksi Taufiq Hidayat pernah mengingatkan untuk menghitung kekuatan struktur. Langkah ini bisa dilakukan dengan bantuan ahli struktur. Mereka akan menghitung kebutuhan ukuran fondasi hingga struktur rangka dengan mempertimbangkan zona gempa lokasi.
"Ketahanan strukturnya itu harus kuat, biasanya strukturnya rangka itu ada fondasi, kolom, ada balok terbuat dari beton bertulang. Konstruksi beton bertulang itu harus kuat juga dari kekuatan betonnya, kekuatan bajanya sebagai tulangan rangkanya itu harus sesuai," kata Taufiq kepada detikProperti beberapa waktu lalu.
2. Perkuat Sambungan Struktur
Sambungan antara tiang kolom dan balok bisa lepas saat gempa. Pemilik perlu memperhatikan titik rumah ini dengan memastikan sambungannya kuat.
"Itu biasanya penulangan pada sambungan itu nggak diperhatikan. Itu ada teorinya, jadi penulangan itu harus overlap. Jangan main asal nyambung ada balok ada kolom terus kemudian disambungkan gitu aja," katanya.
3. Perkuat Struktur Dinding
Perkuat tembok rumah dengan sistem penguatan dinding pakai besi. Langkah ini mencegah dinding roboh ketika gempa.
Salah satu sistem yang dapat digunakan adalah penggunaan bata interlock yang diberi kekuatan dengan besi tulangan vertikal dan horisontal pada setiap beberapa lapisan bata.
4. Kaitkan Genteng ke Rangka Atap
Atap sangat beresiko untuk runtuh saat gempa. Sebaiknya mengaitkan genteng pada rangka dengan baut atau kawat agar tidak bergerak.
Lalu, genteng yang lebar dan ringan bisa menjadi alternatif untuk genteng yang lebih aman. Beberapa jenis genteng yang bisa digunakan seperti lembaran spandek dan polivinil klorida (PVC).
5. Jendela Kecil
Kemudian, Taufiq menyarankan untuk membuat jendela yang tidak terlalu besar. Sebab, jendela kaca rawan pecah sehingga dapat membahayakan penghuni rumah.
6. Material Bangunan Ringan dan Berstandar SNI
Terpisah, Profesional kontraktor PT Gaharu Konstruksindo Utama Panggah Nuzhul Rizki pernah mengatakan membangun rumah perlu menggunakan bahan bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini untuk memastikan kualitas material bagus sehingga bangunan rumah bisa menahan dampak gempa.
Selain itu, pilih bahan bangunan yang tidak terlalu berat, misalnya penggunaan genteng beton dan genteng metal.
7. Konsultasi dengan Ahli
Gunakan jasa ahli yang berpengalaman seperti arsitek dan konsultan struktur. Para ahli membantu memberikan pilihan terbaik mulai dari desain, tipe struktur, kedalaman fondasi, hingga dimensi bangunan.
"Nanti mereka akan memperhitungkan beban-beban yang ada di pekerja di dalam rumah itu apa aja. Beban matinya, beban hidupnya, termasuk nanti juga mereka akan memasukkan safety factor untuk beban gempanya," kata Panggah.
8. Ikuti Panduan Bangun Rumah Anti Gempa
Terakhir, pemilik bisa mengikuti panduan teknis membangun rumah anti gempa yang sudah dibuat oleh pemerintah.
"Contoh konkretnya yang pernah dibuat sama Kementerian PU itu rumah contoh namanya RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat). Itu contoh konkret rumah yang berdasarkan petunjuk dari PU untuk kaedah-kaedah biar rumah tahan gempa," ucapnya.
Itulah tips membangun rumah yang tahan gempa. Semoga bermanfaat!
(dhw/das)