Istana Maimun merupakan salah satu destinasi wisata di Medan, Sumatera Utara. Sebagian istana tersebut memang dibuka untuk umum agar masyarakat bisa melihat salah satu peninggalan Kesultanan Deli dan sebagian lainnya dihuni oleh keluarga Sultan Deli.
Dulu, istana ini tidak dibangun sebagai tempat tinggal. Istana ini dibangun sebagai area pertemuan Sultan Deli dengan tamu-tamunya, baik tamu kerajaan maupun orang Eropa yang sedang ada di Medan.
"Awalnya (istana dibangun) untuk rapat-rapat aja. Buat musyawarah, rapat, atau ada kumpul dengan orang Belanda atau orang apa pun itu," tutur Ire, pemandu wisata di Istana Maimun, Medan, Rabu (22/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istana ini akhirnya ditempati oleh keluarga Sultan Deli setelah Indonesia merdeka, yaitu sekitar tahun 1946 karena adanya peristiwa revolusi sosial.
"Tapi karena pada 1946 terjadi yang namanya revolusi sosial, yang terdampak ke tempat tinggalnya keluarga Sultan Deli, di mana itu habis terbakar rata dengan tanah. Jadi karena nggak ada lagi tempat tinggal Sultan, akhirnya Sultan Deli memutuskan Istana Maimun ini untuk dipakai tempat tinggal," ungkapnya.
Istana Maimun ini dibangun oleh Sultan Deli ke-9 yaitu Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 26 Agustus 1888. Pembangunan istana ini memakan waktu sekitar 3 tahun dan rampung pada 1891.
Istana ini dibangun dengan bantuan arsitek bernama Kapten Theodoor Van Erp dari Belanda. Karena ingin membangun istana yang megah dan indah, Sultan Deli ke-9 menggunakan bahan bangunan yang diimpor dari berbagai negara agar awet. Hanya ada satu material asli Indonesia yang dipakai yaitu kayu jati yang digunakan sebagai lantai di bagian teras istana sementara sebagian besar lantai istana menggunakan tegel.
Terbukti, selama ratusan tahun berdiri, Istana Maimun belum pernah melakukan renovasi besar-besaran. Hanya mengecat ulang bangunan saja.
"(Perabotannya) masih asli. Yang ini masih asli, ini kursi, meja, sebelah sana," tutur Ire.
Di Istana Maimun, ada 30 ruangan. Namun yang dibuka untuk umum hanya tiga bagian saja. Pada bagian depan, dulunya itu digunakan untuk menyambut tamu dan ada dua ruang penjaga.
Bagian tengah, terdapat singgasana Sultan Deli yang masih ada sampai sekarang. Di bagian ini biasanya dipakai untuk ruang pertemuan antara Kesultanan Deli dengan tamunya. Biasanya, tamu yang masuk akan melepas alas kaki dan duduk lesehan di ruang pertemuan itu bersama dengan Sultan Deli.
Kalau tamunya orang Belanda atau Eropa, mereka tidak melepas sepatu melainkan membersihkan sepatu melalui keset khusus di depan istana. Jadi saat masuk pun sepatunya tetap bersih. Saat di ruang pertemuan, akan disediakan kursi untuk para tamu duduk bersama dengan Sultan Deli.
"Karena kan dulu bisa dibilang masih masa penjajahan ya. Nah jadi ada kesenjangan sosial lewat itu. Walaupun yang datang ini sekelas tamu Sultan Malaysia atau pun orang terpandang juga di Indonesia itu mereka duduk di bawah. Khusus orang Eropa yang duduk menggunakan kursi dan pakai sepatu," tuturnya.
Di ruang tengah itu juga ada sebuah lampu gantung yang besar dengan berlian nan indah yang kristal-kristalnya bisa memancarkan kerlap-kerlip cahaya dari lampu. Sayangnya, berlian-berlian tersebut sempat jatuh lalu pecah dan tidak bisa diperbaiki. Jadi, sekarang kristal-kristal lampu itu merupakan replika saja.
Lalu, ruang terakhir yang dibuka untuk umum adalah area makan. Area makan ini biasanya ditutup dengan tirai agar tidak terlihat ketika sedang menyiapkan makanan maupun bersih-bersih. Ketika semua sudah siap, baru lah tirai itu dibuka dan Sultan Deli mengajak tamu ke ruang makan.
Istana Maimun berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektare dengan luas bangunan sekitar 2.300 meter persegi. Bangunan ini memadukan berbagai sentuhan gaya arsitektur mulai dari gaya melayu, Eropa, hingga Timur Tengah.
Istana ini juga banyak menggunakan perpaduan warna kuning, hijau, serta merah. Bagian langit-langitnya dilukis tangan langsung yang keindahannya masih bisa dinikmati hingga saat ini.
