Apa Benar Pintu di Lawang Sewu Ada 1.000?

Apa Benar Pintu di Lawang Sewu Ada 1.000?

Almadinah Putri Brilian - detikProperti
Selasa, 09 Jun 2026 19:21 WIB
Menjelajahi Jejak Sejarah Perkeretaapian Indonesia di Museum Ambarawa dan Lawang Sewu
Lawang Sewu. Foto: Dok. KAI
Jakarta -

Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang masih ada sampai saat ini. Gedung ini sering kali menjadi ikon Kota Semarang, Jawa Tengah.

Gedung ini diketahui memiliki pintu yang banyak. Tapi, apa benar jumlah pintunya ada 1.000?

Jawabannya tidak. Jumlah pintu di Lawang Sewu tidak sampai 1.000. Jumlah pastinya ada 928 daun pintu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Jumlahnya) 928 daun pintu," ucap salah satu pemandu di Lawang Sewu belum lama ini.

Dikutip dari ebook Jelajah Wisata Nusantara, pada dasarnya kata Lawang Sewu itu berasal dari Bahasa Jawa. Kata 'Lawang' berarti pintu dan 'Sewu' berarti seribu. Namun, walaupun secara bahasa Lawang Sewu artinya seribu pintu, namun kenyataanya Lawang Sewu tidak memiliki 1.000. Itu hanya sebuah kiasan saja saking banyaknya pintu.

ADVERTISEMENT

Sejarah Lawang Sewu

Dalam catatan detikcom, Lawang Sewu berdiri di atas lahan seluas 18.232 meter persegi atau sekitar 18 hektare. Pada awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai kantor administrasi kereta api era penjajah Belanda yang bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Di Lawang Sewu terdiri dari beberapa bangunan dan dibangun pada tahun dan arsitek yang berbeda-beda. Awalnya, Lawang Sewu dirancang Ir. P. de Rieu, seorang arsitek asal Belanda. Gedung C merupakan bangunan yang pertama kali dibuat dan difungsikan sebagai kantor percetakan karcis kereta api pada tahun 1900.

Rancangan pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag setelah Ir. P. de Rieu meninggal dunia. Kedua arsitek ini membangun gedung A sebagai kantor utama NIS. Pembangunan dimulai pada Februari 1904 dan rampung pada Juli 1907.

Selanjutnya, Lawang Sewu diperluas dengan dibangunnya gedung B, D, dan E seiring berkembangnya kantor kereta api Belanda. Gedung B masih dibangun oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag pada 1916-1918. Sementara itu, gedung D dan E dirancang oleh Thomas Karsten yang merupakan arsitek termuda.

Saat Jepang menjajah Indonesia, Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang sebagai markas tentara dan kantor transportasi bernama Riyuku Sokyoku tahun 1942.

Bangunan ini menjadi saksi bisu peristiwa pertempuran lima hari pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Pertempuran ini terjadi antara rakyat Indonesia termasuk Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) dan tentara Jepang.

Saat itu, Lawang Sewu menjadi markas tentara Jepang. Sementara itu, AMKA berada di Wilhelminaplein atau Kawasan Taman Tugu Muda yang berdiri tepat di seberang Lawang Sewu.

Lawang Sewu kini difungsikan menjadi sebuah museum setelah dilakukan berbagai pemugaran dan renovasi. Museum Lawang Sewu menampilkan beragam koleksi benda yang berhubungan dengan kereta api, mulai dari seragam masinis, alat komunikasi, lemari karcis, hingga mesin cetak tanggal untuk karcis kereta.




(abr/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads