Indonesia punya banyak sekali rumah tradisional yang mewakili masing-masing suku. Rumah tradisional ini menyesuaikan dengan budaya, kondisi alam, dan kepercayaan yang mereka anut.
Salah satu rumah tradisional yang unik adalah rumah pohon milik Suku Korowai. Suku ini hidup di pesisir selatan Papua, tepatnya di dalam hutan hujan tropis.
Dilansir detikTravel, rumah tersebut berada di atas pohon, layaknya menyangkut di atas ketinggian sekitar 12-35 meter dari permukaan tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas bagaimana cara bangunnya?
Suku Korowai memilih dulu pohon yang tepat. Mereka biasanya mencari pohon dengan diameter besar, minimal satu meter menjadi pusat penyangga rumah pohon.
Pembuatan rumah ini memakai material yang ada di hutan, seperti kulit pohon, ilalang, daun sagu, pelepah sagu, rotan, akar, dan ranting pohon. Pembuatan memakan waktu sekitar 2-7 hari.
Meskipun berada di atas, rumah ini dilengkapi dengan sekat yang ditancap ke tanah dan menopang rumah. Sekat tersebut berfungsi sebagai pembagi ruang antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berada di sisi timur dan perempuan ditempatkan di barat. Selain itu, sekat juga untuk menghindari pandangan dan kontak dengan kerabat tertentu.
Tulang sisa makanan ditempatkan di bawah atap. Lalu, atapnya terbuat dari daun sagu, dinding menggunakan pelepah sagu, atau anyaman daun sagu atau kulit kayu dan lantai papan kulit kayu.
Rumah suku Korowai. Foto: (iStock) |
Konstruksinya yang sederhana ini tidak menjadi pembatas. Buktinya rumah pohon ini cukup luas, bahkan lebih luas dari batas maksimal rumah subsidi, yakni sekitar 7x10 meter.
Untuk naik ke atas, terdapat tangga gantung yang bisa diakses oleh penghuninya.
Setiap rumah pohon, memiliki beberapa tungku yang disesuaikan dengan jumlah keluarga. Selain untuk masak, asap pembakaran tungku tersebut juga dimanfaatkan untuk mengawetkan konstruksi kayu dari pelapukan. Perapian terbuat dari tanah liat dan digantungkan di atas ruang terbuka sehingga mudah dipotong dan dijatuhkan jika bara api tidak terkendali.
Konstruksi rumah pohon hanya dapat bertahan sekitar 2-3 tahun. Jika ada yang meninggal, mereka semua akan berpindah tempat dan jasad keluarga yang meninggal dikuburkan di bawah rumah pohon.
Alasan Rumah Suku Korowai Dibangun di Atas Pohon
Rumah pohon dibangun sangat tinggi karena konon suku Korowai takut terhadap serangan 'laleo' atau iblis yang kejam. Makhluk ini dipercaya berjalan seperti mayat hidup yang berkeliran pada malam hari, mencari kerabat mereka.
Dulu sebelum kenal budaya modern, maksud dari iblis itu bukan makhluk halus, melainkan setiap materi dan orang-orang dari dunia luar termasuk di dalamnya.
Sebutan 'laleo', iblis mati yang berjalan, diterapkan bagi semua orang asing, termasuk orang orang Papua dari daerah lain. Beras dianggap sebagai sagu milik iblis, atap logam seperti ilalang juga dari iblis. Selama beberapa waktu mereka menolak barang-barang yang dibawa masuk untuk pertukaran atau agar dapat menjadi teman dari suku Korowai.
Kini masyarakat Korowai telah menerima tawaran barang-barang modern, seperti korek api gas, parang logam, makanan kaleng dan mi instan.
Selain itu, rumah yang tinggi juga aman dari ancaman pemburu kepala, binatang buas, dan tidak terjangkau oleh nyamuk malaria.
Artikel ini melansir detikTravel dari kiriman dari Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua. Artikel sudah diedit sesuai keperluan berita.
(aqi/das)











































