Rumah tradisional Bali merupakan salah satu konsep tempat tinggal terunik di Indonesia. Sebab, rumah tersebut terdiri dari beberapa bangunan yang memiliki fungsi berbeda.
Berdasarkan jurnal berjudul Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri yang ditulis oleh I Wayan Parwata, konsep penataan rumah di Bali umumnya mengikuti aturan tata letak dan tata nilai tradisional Bali. Hal ini juga berlaku pada tata ruang kawasan di daerah Bali.
Konsep yang dipakai merujuk pada konsep Tri Mandala yakni, nista, madya dan utama mandala. Konsep lainnya yang dipakai adalah Tri Hita Karana, yakni Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan alam lingkungan). Kedua konsep ini bersumber dari lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan artikel ilmiah berjudul Desain Rumah Bali Kontemporer yang Berbasis Konsep Tri Mandala yang ditulis oleh Halim Adi Kusuma dan Gunawan Tanuwidjaja, nantinya lokasi ruangan-ruangan di rumah akan dibagi dalam tiga tempat.
Sebagai contoh pada tata ruang rumah Tenganan Pegringsingan yang berada di Desa Bali Aga, pembagiannya seperti ini:
Bagian Utama Mandala
Mencakup tempat penyembahan, tempat tidur orang tua, dan ruang penyimpanan artefak pusaka keluarga.
Bagian Madya Mandala
Tempat tidur anak gadis yang belum menikah, tempat upacara adat kelahiran dan kematian, tempat rapat tamu, menenun, dan menyimpan padi.
Bagian Nista Mandala
Area pelayanan seperti menumbuk padi, memasak, mandi, mencuci, dan peternakan hewan.
Seluruh bangunan ini dikelilingi dengan pagar atau tembok yang sering disebut dengan panyengker. Pagar ini juga dibangun di dalam lahan untuk membatasi area utama, madya, dan nista. Material yang biasa digunakan adalah dari batu, bata, dan beton.
Tri Mandala dipandang lebih mudah diterapkan untuk rumah dengan ukuran lahan yang relatif kecil dengan kisaran 160-250 meter persegi (seperti yang terlihat di Rumah Tenganan Pegringsingan).
Alasan konsep zonasi Tri Mandala dipakai karena dapat memisahkan area suci di bagian utama atau depan rumah dan area untuk kegiatan tidak suci di bagian nista yang lokasinya di belakang.
Itulah penjelasan mengenai pembagian ruangan dan tata letaknya, semoga membantu.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(aqi/dhw)
