Masjid adalah tempat ibadah yang terbuka secara umum untuk umat Islam. Jemaah yang datang bisa dari berbagai kelompok, tetapi beberapa yang perlu menjadi perhatian adalah lansia dan difabel.
Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto, masjid harus bisa diakses oleh semua orang, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Sebaiknya masjid dapat mengakomodir mereka yang ingin beribadah ke masjid.
"Pentingnya masjid ataupun bangunan publik yang lain itu harus inklusif. Artinya, bisa dinikmati oleh semua orang," ujar Teguh kepada detikProperti belum lama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyarankan agar masjid yang belum dibangun dapat direncanakan desainnya untuk mengakomodir kaum difabel maupun lansia. Lalu, masjid yang sudah terbangun pun dapat disesuaikan desainnya.
Tantangan pada bangunan masjid bagi sebagian orang di antaranya ada pada tangga masuk dan tempat wudhu. Beberapa orang bisa kesulitan menggunakan kedua hal tersebut karena keterbatasan untuk bergerak.
"Wudhu kan buat orang yang berkursi roda pasti agak sulit ya. Nah, itu kita harus mendesain bisa untuk mereka agar tidak kesulitan untuk yang berkursi roda," katanya.
Selain itu, kaum difabel pun beragam, mulai dari tunarungu hingga tunadaksa. Sebaiknya masjid memudahkan bangunan buat mereka beribadah.
Lalu, seperti apa desain masjid inklusif? Berikut ini penjelasannya.
Desain Masjid Inklusif
Inilah beberapa cara mendesain masjid yang mudah digunakan oleh kaum difabel dan lansia menurut arsitek.
1. Toilet Prioritas
Teguh mengatakan masjid bisa menyediakan toilet yang mudah digunakan oleh penyandang disabilitas, misalnya pintunya lebih lebar dan terdapat pegangan pada dinding. Jika memungkinkan siapkan toilet khusus untuk prioritas. Hal ini juga berlaku untuk tempat wudhu.
2. Tanjakan
Lalu, sediakan ramp atau tanjakan pada akses masuk masjid. Sebab, tangga bisa sulit dinaiki oleh lansia dan tunadaksa yang menggunakan kursi roda.
3. Paving Guiding Block
Terpisah, arsitek Fauzan A T Noe'man menambahkan jalan dari gerbang sampai masjid bisa diberikan paving block khusus atau paving guiding block. Hal ini memudahkan tunanetra mencari jalan ke masjid.
4. Tempat Wudhu
Tempat wudhu bisa dibuat ramah bagi yang kesulitan berjalan, berdiri, terutama yang menggunakan kursi roda. Sediakan tempat duduk, pegangan pada tembok, serta pijakan kaki di tempat wudhu.
"Karena untuk semua difabel, kita ukurannya ke ukuran yang berkursi roda. Jadi lebar pintu, posisi wastafel dan sebagainya lebih ke posisi yang berkursi roda," ucap Fauzan.
5. Tulisan
Kemudian, masjid dapat dilengkapi dengan tulisan, petunjuk, atau running text. Tambahan ini memungkinkan tunarungu mendapatkan informasi di masjid.
6. Ruang Tenang
Jika memungkinkan, siapkan ruangan khusus yang sunyi atau biasa disebut quiet room atau calm room. Ruangan ini bisa digunakan oleh jemaah yang memiliki autisme atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) saat merasa terganggu suasana berisik atau ramai di masjid.
Di sisi lain, Fauzan menekankan pentingnya mempertimbangkan kebutuhan jemaah dan kemampuan pengurus masjid. Sesuaikan tambahan desain inklusif sesuai kemampuan.
Sebab, biaya untuk membangun masjid yang inklusif bisa memakan lebih banyak biaya. Lalu, perawatan setelah masjid terbangun juga butuh tenaga dan biaya.
"Kalau buat masjid itu harus ditanyakan juga ke pengurusnya, kemampuannya seperti apa sih kita untuk mengurus masjid ini," tuturnya.
Terkadang masjid perumahan atau permukiman belum mampu membuat masjid inklusif. Namun, masjid besar atau masjid agung tetap dianjurkan untuk mengakomodir jemaah kelompok difabel maupun lansia.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
