Masjid biasanya dibangun dengan bata maupun beton agar kuat. Namun, ada masjid yang unik karena dibangun menggunakan bahan baku lumpur.
Masijd itu bernama The Great Mosque of Djenné yang berada di Mali. Dilansir dari Forbes Africa, masjid dengan arsitektur Sudano-Sahelian ini dibangun oleh Raja Mali ke-26, Koi Konboro pada abad ke-13.
Koi Konboro baru masuk Islam dan sedang berkunjung ke Mekah untuk pergi haji. Sekembalinya ke Mali, ia membangun The Great Mosque of Djenné untuk menjadi tempat ibadah rakyatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, masjid legendaris ini rusak seiring berjalannya waktu karena perpindahan kekuasaan. Dilansir dari Whose Culture? Department of History of Art and Architecture Harvard University, disebutkan pada abad ke-19, seorang penguasa lokal bernama Seku Ahmadu menghancurkan masjid tersebut karena dinilai tidak sesuai dengan pandangan Islamnya dan membangun masjid baru.
Pada abad ke-20, Mali ditaklukan oleh Prancis dan pada 1907 pemerintah kolonial Prancis merekonstruksi bangunan masjid aslinya. Kepala operasional proyek tersebut adalah Ismaila Traore, seorang tukang batu setempat yang sangat memahami teknik struktural yang dibutuhkan dan arsitektur Djenné yang otentik, tetapi ada spekulasi bahwa desainnya masih tampak dipengaruhi oleh Prancis.
Arsitektur Masjid
The great mosque of Djenné. Foto: AP/Moustapha Diallo |
Dalam catatan detikcom, masjid ini memiliki panjang 91 meter dan tinggi hampir 20 meter. Bangunan ini menjadi bangunan berbahan baku lumpur terbesar di dunia.
Pada masjid itu, terdapat kisi-kisi kayu yang menjadi hiasan dan struktur bangunan. Dilansir dari Google Arts & Culture, pada bagian depan terdapat bangunan berbentuk kotak yang merupakan sebuah makam yang berisi jenazah Imam Almany Ismaila, tokoh penting di Djenné abad ke-18.
Tak hanya itu, diujung menara diletakkan telur burung unta yang merupakan simbol tradisional dari penciptaan dan kebangkitan.
Di masjid ini ada 90 pilar yang menopang masjid. Bagian dinding tebal dan sistem ventilasi dirancang sedemikian rupa agar tetap terasa adem meski sedang musim panas.
Tradisi Plester Masjid dengan Lumpur Setiap Tahun
Festival Crepissage de la Grand Mosquée. Foto: (BBC) |
Karena bangunan masjid dibangun pakai lumpur, bagian eksteriornya rentan terkikis oleh unsur-unsur alam. Untuk menjaganya agar tetap awet dan terawat, setiap tahunnya masjid itu diplester ulang menggunakan lumpur dan menjadi tradisi di festival Crepissage de la Grand Mosquée.
Biasanya, para pria yang menyiapkan campuran lumpur untuk plester lalu para wanita bertugas untuk mengambil air dari sungai terdekat. Selanjutnya, bahan-bahan tersebut dicampur dan siap dipakai. Untuk bisa memplester masjid, perlu menaiki tiang kayu terutama pada bagian yang tinggi.
Pada saat festival ini dilakukan, seluruh komunitas di Djenné berkumpul dan berpartisipasi tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Festival ini tidak hanya bertujuan untuk pemeliharaan dan perawatan arsitektur masjid, tapi juga berkontribusi untuk menjaga tatanan sosial komunitas.


Festival Crepissage de la Grand Mosquée. Foto: (BBC)