Madinah adalah kota paling suci kedua dalam agama Islam setelah Mekkah. Kota ini menjadi rumah bagi bangunan Masjid dengan kisah yang historis dan melegenda. Adalah Masjid Nabawi sebagai saksi hidup perjalanan panjang peradaban Islam. Dibalik megahnya Masjid ini, terdapat sejarah panjang bangunan mulai dari dibangun dengan pelepah kurma dan tanah hingga kini berdiri modern dan megah.
Masjid Nabawi terletak di jantung Kota Madinah. Bangunan tersebut kini menjelma menjadi salah satu kompleks masjid paling modern dan megah di dunia. Arsitekturnya menjadikan masjid ini punya ciri khas tersendiri, seperti kubah berwarna hijau yang khas, 10 menara masjid yang menjulang tinggi, hingga payung raksasa yang bisa terbuka-tertutup otomatis.
Dahulunya masjid ini hanyalah bangunan sederhana berbahan tanah dan batang kurma, serta beratap pelepah kurma. Namun saat ini, masjid telah berevolusi menjadi bangunan megah yang dilengkapi teknologi tinggi. Mencerminkan jejak panjang bangunan yang berkembang lintas zaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Pendirian, Masjid Sederhana di Tanah Anak Yatim
Dilansir dari Situs Resmi Badan Pengelola Keuangan Haji, Rabu (17/2/2026), sejarah Masjid Nabawi bermula pada tahun 622 Masehi, tak lama setelah Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, unta yang ditunggangi Rasulullah berhenti di sebuah tempat yang merupakan sebidang tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjar, yaitu Sahl dan Suhail.
Kedua anak yatim tersebut menawarkan tanah secara cuma-cuma kepada Rasulullah sebagai bentuk penghormatan dan cinta mereka, namun Rasulullah menolaknya. Beliau memilih untuk membelinuya dan dijadikan lokasi pembangunan masjid.
Pembangunan Masjid Nabawi berlangsung selama dua belas hari dan melibatkan seluruh umat muslim yang baru saja hijrah dari Makkah serta penduduk Madinah. Bangunan awal Masjid Nabawi sangat sederhana. Fondasinya dari batu, dindingnya dari tanah liat, tiangnya batang pohon kurma, dan atapnya pelepah kurma. Bahkan, Nabi Muhammad SAW ikut langsung mengangkat bahan bangunan bersama para sahabat.
Masjid dibangun dengan ukuran sekitar 29,8 x 47,2 meter. Masjid ini sejak awal difungsikan sebagai pusat kehidupan umat Islam yaitu tempat salat, musyawarah, pendidikan, hingga tempat tinggal kaum miskin yang dikenal sebagai Ahl al-Suffah.
Perluasan Klasik, dari Khulafaur Rasyidin hingga Kesultanan Islam
Melansir situs Crescent International, tujuh tahun setelah dibangun, Masjid Nabawi mengalami perluasan pertama seiring bertambahnya jumlah umat Islam. Perluasan berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin. Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan memperbesar area masjid, mengganti tiang kurma dengan pilar yang lebih kokoh, serta memperkuat dinding dengan batu.
Perubahan besar juga terjadi pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Pada 707 M, penguasa Umayyah al-Walid bin Abdul Malik membangun ulang masjid secara besar-besaran dan mengintegrasikan makam Nabi Muhammad SAW ke dalam kompleks masjid. Area antara makam Nabi dan mimbar kemudian dikenal sebagai Raudhah, yang diyakini sebagai salah satu taman surga.
Puncak perubahan visual terjadi pada masa Kesultanan Mamluk dan Ottoman. Kubah di atas makam Nabi pertama kali dibangun pada 1279 M. Kubah awalnya hanya berbahan kayu dan tidak berwarna. Namun, pada tahun 1482 terjadi kebakaran yang menghanguskan struktur kubah.
Sultan Mesir, Ashraf Sayf al-Din Qa'itbay, kemudian membiayai rekonstruksi dinding timur, barat, dan selatan masjid. Ia juga mengganti sebagian besar fondasi kubah yang sebelumnya terbuat dari kayu menjadi bata demi memperkuat struktur agar tidak runtuh, serta melapisi kubah kayu yang baru dengan pelat timah untuk perlindungan tambahan.
Masjid kemudian diperkuat dan diperindah pada abad-abad berikutnya. Pada masa Sultan Ottoman Mahmud II, kubah tersebut dicat warna hijau, warna itulah yang kemudian menjadi identitas ikonik Masjid Nabawi hingga kini.
Era Modern, Transformasi Menjadi Masjid Berteknologi Tinggi
Masjid Nabawi memasuki fase transformasi besar di era Kerajaan Arab Saudi. Perluasan masif dimulai sejak masa Raja Abdul Aziz dan terus berlanjut hingga era modern. Bangunan masjid kini menggunakan material marmer, sistem pendingin udara canggih, serta payung elektrik raksasa yang bergerak otomatis untuk melindungi jamaah dari panas ekstrem.
Dari luas awal yang hanya sekitar seribu meter persegi, Masjid Nabawi kini mampu menampung jutaan jamaah, terutama saat musim haji dan umrah. Meski telah bertransformasi menjadi bangunan modern, elemen-elemen bersejarah seperti Raudhah dan makam Nabi Muhammad SAW tetap dijaga dengan penuh kehormatan.
Perjalanan panjang Masjid Nabawi dari bangunan tanah dan pelepah kurma hingga menjadi ikon arsitektur Islam modern menunjukkan bahwa masjid ini bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga cerminan perkembangan peradaban umat Islam dari masa ke masa.
(das/das)










































