Atap merupakan elemen penting dalam bangunan rumah tinggal karena berfungsi sebagai pelindung dari panas matahari, hujan, dan angin. Atap genteng menjadi pilihan paling populer karena dinilai kuat, tahan lama, dan sesuai dengan iklim tropis.
Dua bentuk atap genteng yang paling sering dipakai pada rumah di Indonesia adalah atap pelana dan atap perisai. Kedua jenis atap ini sangat populer karena desainnya yang fungsional, yaitu membantu mengalirkan air hujan dan mampu menyerap panas.
Pemilihan bentuk atap genteng tidak hanya berpengaruh pada tampilan rumah, tetapi juga menentukan kenyamanan, ketahanan terhadap cuaca, serta kemudahan perawatan bangunan. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakteristik serta kelebihan dan kekurangan atap pelana genteng dan atap perisai genteng sebelum menentukan jenis atap yang paling sesuai untuk rumah tinggal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan jurnal penelitian teknik sipil yang dilakukan oleh Sudarmadji, berikut ini penjelasannya.
Pengertian Atap Pelana
Atap Pelana Foto: Getty Images/iStockphoto/DutchScenery |
Atap pelana adalah bentuk atap yang terdiri dari dua bidang miring, bertemu pada satu garis lurus di bagian atas yang disebut bubungan. Secara visual, bentuknya menyerupai huruf V terbalik.
Jenis atap ini banyak digunakan pada rumah tinggal sederhana dengan kemiringan ideal genteng sekitar 30 hingga 40 derajat. Atap itu mampu mengalirkan air hujan dengan cepat dan efektif. Umumnya, atap tersebut menggunakan genteng tanah liat atau genteng beton dan ditopang oleh konstruksi atap kuda-kuda yang relatif sederhana.
Pengertian Atap Perisai
Atap Perisai Foto: (Istimewa) |
Atap perisai merupakan pengembangan dari atap pelana. Bentuknya terdiri dari empat bidang atap miring, yaitu dua bidang berbentuk trapesium dan dua bidang berbentuk segitiga.
Atap perisai memiliki sistem jurai luar dan jurai dalam, yaitu sambungan dua bidang atap miring. Karena hal itu, dibutuhkan ketelitian lebih tinggi dalam pemasangan genteng dan talang air. Untuk penutup genteng, sudut kemiringan atap perisai juga berada pada kisaran 30 hingga 40 derajat.
Perbedaan Atap Pelana dan Atap Perisai
1. Bentuk dan Struktur
Atap pelana terdiri dari dua bidang miring yang bertemu pada satu garis bubungan di bagian atas bangunan. Sementara itu, atap perisai memiliki empat bidang miring yang saling bertemu, sehingga membentuk struktur atap yang lebih tertutup di seluruh sisi bangunan.
2. Kompleksitas Konstruksi
Konstruksi atap pelana tergolong sederhana karena hanya memerlukan dua bidang atap dan sambungan yang relatif sedikit. Berbeda dengan atap perisai, membutuhkan perencanaan struktur lebih detail karena adanya jurai luar dan jurai dalam, yaitu sambungan antara dua bidang atap miring.
3. Perlindungan Dinding
Atap perisai mampu melindungi dinding rumah secara lebih merata dari panas matahari dan aliran air hujan karena seluruh sisi bangunan tertutup bidang atap. Pada atap pelana, masih terdapat bidang dinding berbentuk segitiga yang lebih terekspos.
4. Penggunaan Material
Atap perisai memerlukan jumlah genteng yang lebih banyak karena memiliki empat bidang atap dengan luas penutup yang lebih besar. Selain itu, kebutuhan rangka atapnya juga lebih banyak dibandingkan atap pelana sehingga berdampak pada biaya konstruksi yang lebih tinggi.
Plus Minus Atap Pelana
Kelebihan Atap Pelana
- Memiliki bentuk sederhana sehingga biaya konstruksi lebih ekonomis.
- Kemiringan genteng memungkinkan air hujan mengalir cepat, mengurangi risiko kebocoran.
- Ada ruang kosong antara atap dan plafon yang baik untuk sirkulasi udara dan peredam panas.
- Perawatan dan perbaikan relatif lebih mudah.
Kekurangan Atap Pelana Genteng
- Bagian gunungan menjadi titik rawan retak dan bocor akibat paparan cuaca langsung.
- Perlindungan terhadap angin dan hujan tidak sebaik atap perisai, terutama pada sisi dinding ujung bangunan.
Plus Minus Atap Perisai
Kelebihan Atap Perisai
- Memberikan perlindungan maksimal terhadap panas matahari dan hujan karena semua sisi miring.
- Lebih stabil terhadap tekanan angin karena aliran angin diarahkan ke atas.
- Tampilan bangunan terlihat lebih kokoh dan estetis untuk rumah tinggal permanen.
Kekurangan Atap Perisai Genteng
- Struktur konstruksi lebih kompleks sehingga biaya pembangunan lebih tinggi.
- Memiliki banyak sambungan genteng dan jurai yang berpotensi menjadi titik kebocoran jika pemasangan kurang teliti.
- Membutuhkan material rangka dan genteng lebih banyak dibandingkan atap pelana.
Baik atap pelana maupun maupun perisai sama-sama cocok untuk rumah tinggal di iklim tropis. Atap pelana genteng unggul dari sisi kesederhanaan dan efisiensi biaya, sementara atap perisai genteng menawarkan perlindungan dan ketahanan yang lebih baik terhadap cuaca, meskipun dengan biaya dan kompleksitas yang lebih tinggi.
Pemilihan bentuk atap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi rumah, anggaran, desain rumah, serta kualitas pemasangan genteng agar atap dapat berfungsi optimal dan tahan lama.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/dhw)













































