Bisa Sampai 150 Meter, Rumah Suku Dayak Bisa Dihuni 100 Orang

Bisa Sampai 150 Meter, Rumah Suku Dayak Bisa Dihuni 100 Orang

Wildan Alghofari - detikProperti
Senin, 19 Jan 2026 07:31 WIB
Bisa Sampai 150 Meter,  Rumah Suku Dayak Bisa Dihuni 100 Orang
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah punya hunian tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol kehidupan bersama. Rumah yang dikenal dengan sebutan Huma Betang ini mampu menampung hingga ratusan orang dalam satu bangunan dengan panjang mencapai 150 meter.

Dilansir dari Buku 'Mengenal Rumah Tradisional Kalimantan' karya Mahmud Jauhari Ali yang diterbitkan oleh Badan Bahasa Kemendikdasmen, Kamis (15/1/2026), Huma Betang merupakan rumah panjang khas suku Dayak Ngaju yang punya panjang bangunan sekitar 30 hingga 150 meter dan lebar 10 hingga 30 meter. Rumah ini dibangun dalam bentuk panggung dengan tiang penyangga setinggi 3 hingga 5 meter, membuatnya tidak langsung menyentuh tanah.

Melansir Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun oleh Dewa Ayu Made Manik Galih, dkk, Huma Betang tidak sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah kearifan lokal yang kaya akan nilai historis, sakral, dan sosial. Keberadaan rumah betang menjadi penghubung budaya masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Dayak, sekaligus cikal bakal berkembangnya permukiman di Kalimantan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fakta Rumah Betang

Arsitektur Rumah Betang

Secara arsitektur, Rumah Betang dirancang memanjang hingga mencapai 150 meter bukan tanpa alasan. Bentuk panjang ini mengikuti pola permukiman masyarakat Dayak yang hidup berkelompok dan menetap di sepanjang aliran sungai. Di sana, sungai berfungsi sebagai jalur transportasi utama, sumber air, sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan sosial, sehingga rumah dibangun sejajar dengan alur sungai.

Panjang bangunan juga berkaitan dengan fungsi sosial rumah Betang sebagai hunian bersama banyak keluarga. Setiap keluarga menempati satu bilik. Semakin banyak keluarga yang tinggal, semakin panjang pula rumah Betang yang dibangun. Karena itu, rumah Betang tidak memiliki ukuran baku, melainkan menyesuaikan dengan jumlah penghuni.

ADVERTISEMENT

Selain itu, bentuk memanjang juga memudahkan pengawasan, komunikasi, dan interaksi antarwarga dalam satu komunitas. Dengan satu bangunan panjang, aktivitas sosial, adat, dan keagamaan dapat terpusat di satu tempat tanpa harus terpisah-pisah, menjadikan rumah Betang sebagai pusat kehidupan masyarakat Dayak.

Interior dan Tata Ruang

Interior Rumah Betang mencerminkan kehidupan komunal masyarakat Dayak. Pembagian ruang pada rumah Betang pada dasarnya sederhana dan terdiri dari tiga bagian utama. Ruang los ditempatkan di tengah bangunan sebagai pusat aktivitas sosial, adat, dan keagamaan. Di sepanjang bangunan, kamar-kamar tidur disusun berjajar untuk setiap keluarga yang tinggal di dalamnya.

Pada masa lalu, satu ruangan bisa dihuni satu keluarga dengan ukuran yang sama. Namun, seiring perkembangan zaman, Rumah Betang kini lebih banyak difungsikan sebagai hunian satu keluarga dengan ruang yang disesuaikan kebutuhan dan tingkat privasi penghuni. Meski demikian, ruang keluarga atau ruang tamu tetap dibuat lebih luas sebagai simbol kuatnya ikatan kekeluargaan.

Filosofi Keunikan Bangunan

Rumah Betang menyimpan banyak keunikan yang kaya makna. Salah satunya adalah jumlah anak tangga yang selalu ganjil. Ini dipercaya membawa rezeki dan melindungi penghuni dari bahaya. Di bagian depan rumah, terdapat patung Sapundu. Adalah patung kayu khas Dayak Ngaju yang digunakan dalam upacara adat Tiwah untuk mengikat hewan kurban.

Penempatan pintu masuk rumah Betang juga diatur secara adat. Pintu harus berada di tengah bangunan, di sisi panjang rumah, dan menghadap ke sungai. Pola ini menciptakan keseimbangan visual sekaligus mencerminkan filosofi keteraturan dan keharmonisan hidup.

Simbol Kehidupan Bersama

Huma Betang dikenal sebagai rumah komunal yang dapat dihuni oleh 100 hingga 150 orang dalam satu bangunan. Rumah ini dipimpin oleh seorang ketua kampung, sehingga rumah Betang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat kepemimpinan dan kehidupan sosial masyarakat.

Kapasitas hunian yang besar mencerminkan sistem kehidupan kolektif masyarakat Dayak Ngaju. Setiap penghuni, hidup berdampingan dalam satu atap, berbagi ruang, dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan prinsip kebersamaan. Konflik diselesaikan melalui musyawarah, sementara keputusan penting diambil secara mufakat.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Huma Betang simbol kerukunan, persatuan, dan kesetaraan. Konsep hidup bersama yang tertanam dalam arsitektur rumah Betang tetap relevan sebagai warisan budaya yang mengajarkan toleransi dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.




(zlf/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads