Istana Westminster berdiri megah di tepi Sungai Thames, dikenal sebagai salah satu ikon arsitektur paling megah di dunia sekaligus simbol demokrasi Inggris. Namun, di balik fasad indah khas gotik dan menara Big Ben yang melegenda, bangunan ini pernah alami tragedi tragis.
Dilansir dari situs Anglotopia, sebelum berdiri megah seperti sekarang, Istana Westminster merupakan kompleks abad pertengahan yang berkembang secara bertahap sejak abad ke-11. Bangunan-bangunannya tidak dirancang secara khusus, melainkan hasil penambahan dari berbagai era, dengan material kayu yang dominan dan sistem pengamanan yang sangat minim terhadap bahaya kebakaran.
Ancaman kebakaran sebenarnya telah menghantui Istana Westminster selama berabad-abad. Kebakaran besar terjadi pada tahun 1263, 1298, dan 1512, yang terakhir bahkan menghancurkan sebagian besar area hunian istana dan memaksa Raja Henry VIII memindahkan kediaman kerajaan ke Istana Whitehall.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berulang kali terbakar, Istana Westminster tetap difungsikan sebagai pusat parlemen. Sejumlah laporan pada akhir abad ke-18 bahkan memperingatkan bahwa bangunan tersebut rawan bencana karena sebagian besar strukturnya terbuat dari kayu berlapis plester, lengkap dengan tungku dan cerobong yang berisiko tinggi.
Dilansir dari UK Parliament, peringatan kebakaran nyaris diabaikan hingga akhirnya bencana yang diprediksi benar-benar terjadi. Pada 16 Oktober 1834, kebakaran hebat terjadi setelah para pekerja dengan ceroboh membakar tongkat kayu tua milik Bendahara Negara dibakar di tungku bawah Gedung Parlemen, yang kemudian menyulut panel kayu di ruang tersebut.
Api dengan cepat menyebar dan melahap sebagian besar Istana. Peristiwa ini menjadi tontonan luar biasa bagi warga London, disaksikan ribuan orang di tepi Sungai Thames, serta dianggap sebagai kebakaran terbesar di London setelah Kebakaran Besar 1666.
Dari kehancuran tersebut, hanya beberapa bagian yang berhasil diselamatkan, seperti Westminster Hall dengan atap balok palu kayu ek raksasanya, Jewel Tower, serta sejumlah ruang bawah tanah. Menariknya, justru bagian tertua istana yang mampu bertahan dari amukan api.
Kebakaran 1834 kemudian menjadi titik balik penting dalam sejarah arsitektur Inggris. Alih-alih membangun ulang istana lama, pemerintah memutuskan merancang kompleks parlemen yang sepenuhnya baru, lebih aman, lebih fungsional, dan mencerminkan identitas nasional Inggris.
Pada tahun 1835, sebuah kompetisi diumumkan untuk desain istana baru. Pada akhirnya desain istana baru dipercayakan kepada Sir Charles Barry dengan gaya arsitektur kebangkitan gotik, sementara detail interior dan ornamen ditangani oleh Augustus Welby Northmore Pugin.
Istana Westminster. Foto: london00 |
Arsitektur bangunan ini bangkit kembali, dengan gaya Gothic Revival sebagai identitas arsitektur baru. Gaya ini ditandai oleh menara-menara tinggi menjulang, jendela runcing, detail ukiran dekoratif yang rumit. Selain estetika, bangunan baru juga membawa ciri khas teknis modern pada masanya, seperti penggunaan struktur besi cor, sistem ventilasi terpusat, dan teknologi pemanas yang lebih aman, sebagai respons langsung terhadap tragedi kebakaran.
Wujud bangunan hasil rekonstruksi abad ke-19 ini menjadi sebuah perpaduan antara kebangkitan gaya gotik dengan inovasi konstruksi modern, yang kemudian menjadi identitas visual dan simbolik parlemen Inggris hingga kini.
Jika dibandingkan dengan arsitektur lama, konsep istana abad pertengahan punya arsitektur yang semrawut. Sementara, bangunan baru ini dirancang dengan tata ruang simetris dan terencana dengan sumbu utama yang sejajar dengan Sungai Thames.
Fakta unik dari peristiwa ini adalah bagaimana tragedi justru melahirkan mahakarya arsitektur. Istana Westminster kini memiliki lebih dari 1.100 ruangan, menara ikonik seperti Menara Elizabeth dan Menara Victoria, serta menjadi model bagi gedung parlemen di berbagai negara.
Dari tragedi kebakaran tahun 1834, Istana Westminster bangkit bukan sekadar sebagai bangunan baru, melainkan sebagai simbol ketahanan sejarah dan demokrasi parlementer. Tragedi kelam tersebut kini justru menjadi fondasi lahirnya istana dengan arsitektur yang lebih megah dan bernilai universal.
(das/das)











































