Hope: Blockbuster Dari Korea Yang Mengagumkan
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Di sebuah desa kecil dekat DMZ (Korean Demilitarized Zone atau Zona Demiliterisasi Korea), seorang polisi bernama Ko Bum-seok (Hwang Jung-min) akan segera menemukan jawaban kenapa ada mayat sapi di tengah jalan.
Ko Sung-ki (Zo In-sung), saudara Bum-seok, mengatakan bahwa mayat sapi ini sepertinya dibunuh oleh binatang buas di dalam hutan. Kawan-kawan Sung-ki mengatakan bahwa sapi ini mungkin dihabisi beruang atau macan.
Bum-seok tidak percaya dengan semua analisa ini. Cakar yang ada di badan mayat sapi ini terlalu aneh dan besar untuk seekor binatang.
Baca juga: Fall 2: Pendakian Pemicu Adrenaline |
Tak lama setelahnya, Bum-seok bersiap untuk balik ke kantor hanya untuk melihat orang-orang berlarian. Seluruh desa porak poranda. Mayat dimana-mana.
Apakah ini ulat binatang yang membunuh sapi tadi? Yang Bum-seok tahu adalah ia harus mengangkat senjata dan ikut mencari makhluk tersebut dan membunuhnya.
Hope (2026). Foto: Dok. Ist |
Ketika akhirnya Bum-seok tahu apa yang menyebabkan semua kekacauan ini, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa menang melawannya sendirian.
Review:
Hope, film terbaru sutradara Na Hong-jin, adalah salah satu jenis film yang dinanti banyak orang. Konon, ini adalah film termahal yang pernah dibuat Korea Selatan sampai saat ini-infonya bujet film ini mencapai 46 juta dollar.
Alasan berikutnya adalah Na Hong-jin sampai saat ini belum pernah membuat film yang buruk. The Chaser adalah sebuah thriller yang mengagumkan.
The Yellow Sea akan membuat semua penontonnya tenggelam dengan kegalapan yang ditampilkan Na Hong-jin. Dan The Wailing adalah contoh bagaimana sebuah film horor bisa benar-benar membuat penontonnya ketakutan bahkan tanpa jumpscare yang murahan.
Satu jam pertama Hope membuktikan bahwa Na Hong-jin adalah sutradara yang paten. Bahkan tanpa menampilkan apa yang menyusahkan tokoh utamanya, film ini tidak pernah kehilangan momentum.
Seperti karakter Im Sung-ae (Jung Ho-yeon) yang ahli menyetir mobil, film ini seperti menginjak pedal gas dan tidak pernah melepaskannya. Meskipun kita belum menyaksikan monster yang meneror desa tersebut, Hope berhasil membuat saya sebagai penonton tetap tegang dan fokus dengan apa yang ada di layar.
Hope (2026). Foto: Dok. Ist |
Sinematografer Hong Kyung-pyo dengan lincah mengajak penonton untuk melihat apa yang perlu kita lihat dan membayangkan makhluk apa yang bisa menendang pintu sampai meremukkan manusia yang ada di baliknya.
Satu jam setengah berikutnya Na Hong-jin mengajukan pertanyaan serius kepada penonton: apakah kamu masih bisa tetap menganggap semua ini genting kalau ternyata desain makhluknya tidak secantik atau seindah desain makhluk yang selama ini kita lihat di film-film Hollywood? Hope bisa jadi film termahal Korea Selatan tapi visual efeknya bisa dibilang agak mengecewakan.
Rasanya seperti desain yang belum jadi. Masalahnya, ada momen dimana Na Hong-jin berhasil mempersembahkan CGI yang oke di beberapa adegan tapi tidak sedikit juga monster yang dihadirkan terasa terlalu karikatur dan menggelikan.
Pertengahan Hope, Na Hong-jin menginjak rem untuk mengajak penonton bernapas. Ia menjelaskan sedikit tentang misteri makhluk yang ada sembari kita melihat karakter-karakter utamanya melakukan investigasi.
Begitu ia memberikan informasi yang cukup, Na Hong-jin menginjak pedal gas lagi untuk memberikan sekuens panjang yang benar-benar sensasional. Dari kejar-kejaran di dalam hutan sampai akhirnya kejar-kejaran di jalan raya, Hope adalah sebuah permainan cantik antara gerakan kamera dan permainan aktor yang handal.
Hope (2026) Foto: Dok.Ist |
Kalau kamu merasa bosan dengan film-film Hollywood selama ini yang terasa "palsu", Na Hong-jin justru membalikkan aturan ini. Makhluk yang mengejarnya boleh jadi palsu tapi semua adegan lari-larian dan aksinya justru yang terasa realistis. Dan ini membuat Hope terasa jauh lebih punya nyali dibandingkan film-film sejenis.
Hope memang bukan film yang sempurna. Karakter-karakternya agak kurang diolah. Ada banyak mitologi yang belum dijelaskan dengan detail-tapi ini intensional karena ending film ini mengindikasikan sekuel.
Dan durasinya agak terlalu panjang untuk ukuran "hiburan". Tapi dengan humor yang begitu tepat guna dan action yang begitu menggebu-gebu, susah untuk melihat Hope dengan sebelah mata.
Bagaimana pun juga, Na Hong-jin tidak pernah mengecewakan. Bahkan kalau pun visual efeknya belum sempurna, film ini terlalu gagah untuk dilewatkan.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



