Hope: Film Monster yang Bikin Nagih!
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Petaka itu dimulai dari penemuan bangkai sapi dengan kondisi tercabik-cabik di sebuah desa pelabuhan terpencil bernama Hope Harbor. Kepala unit kepolisian setempat, Bum-seok (Hwang Jung Min) menerima laporan ini dari saudara sepupunya, Sung Ki (Zo In-sung).
Awalnya, mereka mengira bahwa sapi itu mati karena terkaman harimau. Walaupun jika dilihat dari bekas cakarannya, ukuran tersebut terlalu besar.
Dari penemuan itu Bum-seok mulai menyisir Hope. Kawasan ini dekat dengan Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. Siapa sangka, Bum-seok menghadapi kekacauan yang tak terduga.
Pasar, peternakan dan permukiman hancur luluh lantak. Tak hanya itu, mayat dan potongan tubuh bergelimpangan di mana-mana. Sejak saat itu, sang polisi baru menyadari bahwa ini bukan perbuatan hewan buas, tapi monster.
Saat Bum-seok kewalahan menghadapai monster, petugas polisi wanita Sung-ae (Hoyeon) datang membantu. Mereka pun secara serempak mati-matian melawan monster yang sama sekali asing bagi mereka.
Hope (2026). Foto: Dok. Ist |
Sembari terus menyusun rencana, mereka meraba-raba tentang apa yang sesungguhnya terjadi?
Review:
Saya menonton film ini dengan modal dua informasi saja. Pertama, film ini ceritanya ditulis dan disutradarai oleh Na Hong-jin yang juga pernah membuat horor ikonik, The Wailing. Kedua, film ini mendapat 7 menit standing ovation setelah pemutarannya di The 79th annual Cannes Film Festival.
Saya pikir, dua hal tersebut sudah cukup sebagai jaminan ini film bagus. Keyakinan itu benar. Hope tampil sangat luar biasa dengan berbagai keunggulan di berbagai aspek.
Dari segi cerita, Hope terlihat ditulis dengan cukup rapi. Pembukaan hingga akhir cerita disusun dengan memperhatikan intensitas ketegangan yang ideal. Hal ini tentu saja tak mudah dilakukan untuk membuat sci-fi thriller.
Hope (2026). Foto: Dok. Ist |
Sebab, genre film ini bisa lekas kehilangan daya pikatnya ketika cerita mulai kehilangan arah. Na Hong-jin sepertinya tahu betul bagaimana cara menghindari masalah-masalah seperti itu.
Sepanjang 30 menit pertama, penonton akan diajak untuk merasakan terornya tanpa memperlihatkan sosok monster. Kita hanya diperlihatkan penampakan permukiman yang centang perenang--puing gedung, ikan tercecer, ternak berkeliaran dan tubuh-tubuh manusia. Misteri tentang monster terus disimpan hingga waktu yang tepat.
Selain itu, sound design yang mengisi film ini sama sekali bukan sekadar hiasan. Suara-suara menggebu itu seolah selaras dengan nuansa adrenaline di bangku penonton.
Ada adegan saat pemburu menunggangi kuda sembari menembaki monster tersebut. Berkat sound design yang apik, sensasinya seperti kita ikut naik kuda yang sedang berkejaran dengan monster.
Hope memang diisi dengan aksi menengangkan yang penuh teror. Meskipun begitu, film ini tak mengabaikan kebutuhan penonton lainnya: humor. Ada satu bagian yang menunjukkan kesaksian seorang kakek pengumpul gingseng tentang keberadaan monster asing ini.
Selama mengikuti ceritanya, penonton bisa tertawa terbahak-bahak sampai perut terasa sakit. Elemen ini juga tak disodorkan dengan berlebihan.
Jika ada lagi keunggulan yang perlu disebut, maka itu adalah aspek sinematografinya. Saya sempat merasa film ini memiliki kualitas visual yang mengingatkan saya pada film Parasite (2019) dari Bong Joon Ho.
Hope (2026). Foto: Dok. Ist |
Karena nuansa yang hadir dalam gambar terasa mirip. Benar saja, ternyata sinematografernya adalah Hong Kyung-pyo, orang yang juga pernah terlibat dalam Parasite.
Dengan segenap keunggulan tersebut, maka tak berlebihan jika Hope layak dimasukkan dalam jajaran film terbaik Korea Selatan. Hope menyuguhkan cerita teror yang menegangkan dan seru. Hope benar-benar bisa membuat penonton mengalami 'rasa nagih'. Penonton akan merasa terus lapar untuk melahap lagi dan lagi.
Hope tayang di jaringan bioskop Indonesia.



