Harapan Melati Suryodarmo di Momen HUT ke-81 RI

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Melati Suryodarmo, koreografer pentas tari Orfeous yang diadaptasi dari sajak Goenawan Mohamad, ditampilkan dalam Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026 pada Sabtu (1/8/2026) malam.
Foto: dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya
Jakarta - Nama Melati Suryodarmo bukan sembarang seniman. Lebih dari empat dekade melanglang buana sebagai seniman performans, kariernya melejit setelah belajar seni pertunjukan di Jerman.

Mulai dari The Butter Dance (2000) hingga I am a Ghost in My Own House (2012) jadi salah satu andelan tarian kontemporer yang diciptakannya.

Sebagai seorang seniman, Melati punya harapan pada Indonesia khususnya di ranah ekosistem kebudayaan. "Kebudayaan bukan hanya untuk dipromosikan saja, tetapi juga untuk didalami dan dipahami manfaat sebenarnya bagi manusia. Itulah sebabnya saya tidak terlalu berani merepresentasikan Indonesia karena pengetahuan saya tentang Indonesia sangat terbatas," katanya saat diwawancarai redaksi detikpop di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dalam pernyataannya, Melati ngaku gak tahu bagaimana kehidupan yang real di Nusa Tenggara Timur, Papua, maupun di Sumatera Utara.

"Saya belum pernah ke sana dan rasanya takut untuk merepresentasikan Indonesia secara keseluruhan. Namun sebagai orang Indonesia yang menciptakan karya dan tampil di kancah internasional, terus terang saya lebih menggunakan pendekatan manusianya. Jadi, bukan politik, bukan representasi tradisi atau apa pun," katanya.

Dalam setiap karya seni performans-nya, Melati selalu menampilkan soal ketubuhan maupun manusia. "Saya tertarik dengan tema manusia-kemanusiaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, sejarah-maka semoga melalui karya saya, hal-hal yang sering kita lupakan dari sisi kemanusiaan kita bisa tersentuh lagi," ungkap Melati.

Perempuan kelahiran Solo ini, mulai berkecimpung di dunia seni rupa pada tahun 1994. Ia belajar tentang studi konsep ruang dan performance art di Hochschule fuer Bildende Kuenste Braunscweig (HBK), Jerman. Selama 20 tahun, Melati telah menampilkan karya performance-nya di berbagai festival internasional dan juga aktif berpartisipasi pada pameran-pameran seni rupa di berbagai negara.

Bagi Melati Suryodarmo, tubuh manusia adalah salah satu sumber penting inspirasi karya-karyanya. Melati tidak memandang tubuh manusia hanya dari segi fisik. Namun baginya, tubuh adalah muatan memori yang terus tumbuh.

"Semoga Indonesia memperhatikan masa depan ekosistem kebudayaan, dari sisi lingkungan hidup yang paling penting dan juga keberlangsungan masyarakat untuk pangannya, kebudayaannya, tradisinya, dan ilmu pengetahuannya," ucapnya.

"Dan harapan saya, Indonesia menghargai talenta-talenta yang cerdas dan juga seniman-seniman muda yang ingin bertumbuh," pungkasnya.



(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO