Review
Panggung Rumah Sakit Jiwa: Gelitik Siapa yang Gila?
Gak tanggung-tanggung, naskah yang berasal dari katalog 35 tahun yang lalu dan gak pernah ditampilkannya, kini Teater Koma menampilkan kembali di Graha Bhakti Budaya (GBB), kompleks TIM, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Panggung Rumah Sakit Jiwa dibuka dengan artistik panggung surealis. Bentuk pintu, jendela, tangga yang seakan distorsi menyambut penonton yang berkesempatan nonton pertama kalinya pada Rabu (29/7) malam.
Kilauan lampu biru menyilaukan penonton dari atas panggung. Belasan 'orang gila' masuk ke atas panggung dengan segala dilematis masalahnya. Satu per satu, ada yang karena terlalu banyak bekerja, ada yang karena judol, ada yang bertingkah kayak Panakawan, bahkan ada yang tergagap selalu ngomongin 'luka'.
Rogusta hadir sebagai dokter jiwa junior dan masuk ke dalam rumah sakit tempat Profesor Sidarta berada.
"Saya paling gak suka dikritik apalagi kritikan datang dari junior seperti saudara," ucap Profesor Sidarta dari atas panggung.
Teater Koma Pentaskan Lakon Rumah Sakit Jiwa Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation |
Rogusta bekerja di rumah sakit yang kamar dokternya lebih mewah dari pasien punya cita-cita mulia. Mendekati pasien dengan rasa kemanusiaan, bukan sistem lama yang pakai kejut listrik. Tapi omongan Rogusta cuma jadi isapan jempol belaka karena sistem lama dan oligarki gak mau dengar.
Di tengah konflik itu, Rogusta bertanya, "Siapa yang sebetulnya tidak waras, kalian atau mereka?"
Kritik Kondisi Sosial dan Isu Global
Sutradara lakon Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiano, cerita lakon ini sebenarnya sangat kontekstual di masa kini. Isu global juga gak pernah mengizinkan sistem baru yang lebih modern unggul.
"Kondisi secara internasional yang gak pernah mengizinkannya oleh sistem lama yang ingin jalan terus. Mau bikin AI menguras sumber daya alam dan tetap pakai. Orang yang bilang mau salah dan benar gak dengerin juga. Secara global seluruh dunia berubah jadi Rumah Sakit Jiwa, makin relevan," katanya.
Teater Koma Pentaskan Lakon Rumah Sakit Jiwa Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation |
Menurut Rangga, dua latar waktu pementasan yang jauh berbeda namun konteksnya masih relevan sampai masa sekarang. Ada 6 pemain yang dahulu terlibat pada tahun 1991 kembali naik ke atas panggung dan sisanya adalah pemain baru.
"Tahun 1991 baru ada 5 miliar manusia, sekarang sudah ada 8 miliar. Dulu belum ada internet, sekarang sudah canggih-canggih. Gimana serangan dari dunia mempengaruhi keadaan psikis manusia jadi masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Almarhum Pak Nano bisa kepikiran bikin naskah ini, wah zaman yang sekarang justru makin parah, bukan baik ya. Ada pasien RSJ yang korban judol, ada juga yang korban pileg juga," terangnya.
Tapi, menurut Rangga, Teater Koma ingin menghadirkan refleksi tentang upaya seorang yang ingin ubah sistem mengakar.
"Kami juga ingin mengajak penonton mempertanyakan, apakah benar dunia sedang berubah jadi sebuah 'rumah sakit jiwa'," tukasnya.
Dua Jempol untuk Artistik Panggung
Teater Koma Pentaskan Lakon Rumah Sakit Jiwa Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation |
Pementasan ini menghadirkan pengalaman artistik yang memperkuat perjalanan cerita melalui perpaduan tata panggung, tata cahaya, tata musik, multimedia, dan rancangan kostum yang saling melengkapi.
Tata panggung dirancang dengan permainan level melalui struktur bertingkat dan elemen tangga yang menjadi metafora hubungan antartokoh, sekaligus merepresentasikan jarak, hierarki, dan dinamika kuasa antara para dokter dan pasien di rumah sakit jiwa.
Ditambah dengan komposisi musik garapan Fero A. Stefanus yang terasa lebih fresh dan bernyawa dengan permainan musik yang beda dari lakon-lakon sebelumnya. Detikers, kamu siap terbius dengan pertunjukan Teater Koma?



