Heboh The Odyssey Bocor di X, Ditonton Jutaan Kali Sebelum Dihapus
Kebocoran tersebut makin ramai setelah sebuah akun membagikan unggahan bertuliskan, "Someone uploaded 'The Odyssey' full movie on X. Can you believe it?".
Unggahan yang mengarahkan pengguna ke film tersebut tercatat telah dilihat lebih dari 3 juta kali sebelum akhirnya X menangguhkan (suspend) akun yang menayangkan film berdurasi hampir tiga jam tersebut.
Hingga kini, belum diketahui bagaimana pelaku bisa mendapatkan rekaman ilegal berkualitas tinggi tersebut.
Menanggapi pelanggaran ini, pihak studio produksi, Universal Pictures, langsung mengambil tindakan tegas.
"Kami menyadari adanya unggahan tanpa izin atas film tersebut dan segera memulai protokol penghapusan (takedown). Kami menangani pelanggaran hak cipta secara serius dan akan menempuh semua langkah hukum yang sesuai untuk melindungi konten serta hak kekayaan intelektual kami," tegas pihak Universal dalam pernyataan resminya.
Meski diterpa masalah kebocoran di media sosial, performa The Odyssey di bioskop terbukti sama sekali tidak terganggu.
Sejak dirilis awal Juli, film ini tak hanya mendapatkan pujian kritis dari para pengkritik film, tetapi juga sukses besar secara komersial.
Pada akhir pekan keduanya di Amerika Serikat, The Odyssey berhasil mengantongi pendapatan sebesar $87 juta-hanya turun 30% dari pekan pembukaannya-sebuah indikasi kuat bahwa film ini masih mendominasi pasar bioskop terbesar di dunia.
Secara global, total pendapatan film ini telah melesat hingga $640 juta (sekitar Rp10,4 triliun).
Insiden kebocoran ini juga diwarnai latar belakang perselisihan pendapat. Pemilik platform X, Elon Musk, dikenal vokal mengkritik film ini, terutama terkait keputusan pemilihan pemeran (casting) seperti penunjukan aktris berkulit hitam Lupita Nyong'o sebagai sosok Helen of Troy.
Musk memanfaatkan isu ini di akun pribadinya untuk menyuarakan kritiknya terhadap budaya Diversity, Equity, and Inclusion (DEI).
Bahkan, manusia terkaya di dunia tersebut sempat mengklaim akan menggunakan platform kecerdasan buatan miliknya, Grok Imagine, untuk membuat adaptasi puisi epik karya Homer yang "akurat secara historis."
Menanggapi gelombang kritik soal pemilihan pemain jauh sebelum filmnya tayang, Christopher Nolan menanggapinya dengan santai dan menganggapnya sebagai hal biasa dalam industri film.
"Diskusi yang terjadi sebelum orang-orang menonton filmnya adalah hal yang selalu tidak relevan, karena tidak ada satu pun dari mereka yang tahu seperti apa film itu sebenarnya," pungkas Nolan.
