28 Years Later Gagal di Box Office, Sutradara: Saya Kecewa

Asep Syaifullah
|
detikPop
28 Years Later: The Bone Temple (2026).
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Strategi rilis cepat yang diterapkan Sony untuk sekuel 28 Years Later ternyata jadi bumerang.

Meskipun banyak penggemar sering mengeluh tentang lamanya jarak antar sekuel, merilis 28 Years Later: The Bone Temple hanya selisih beberapa bulan setelah film pertamanya memicu kebingungan publik.

Sutradara Nia DaCosta akhirnya angkat bicara kepada Empire (11/5) mengenai performa filmnya yang kurang memuaskan di tangga box office. Padahal ia bilang, filmnya mendapatkan ulasan positif dari para kritikus.

DaCosta menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan film ini "melempem":

1. Judul yang Membingungkan: Banyak penonton tidak menyadari bahwa 28 Years Later dan The Bone Temple adalah dua film yang berbeda.

2. Jeda Rilis Terlalu Dekat: DaCosta merasa penonton mengira mereka sudah menonton film tersebut di musim panas sebelumnya. "Saya seperti ingin bilang, 'Bukan, bukan, ini ada sekuelnya!'" ujarnya.

3. Waktu Rilis: Rilis di bulan Januari yang biasanya dianggap "bulan pembuangan" untuk film horor-mungkin tidak membantu performa finansialnya.

Meskipun kecewa dari sisi finansial, Nia DaCosta tetap bangga dengan kualitas karya yang ia hasilkan. Ia merefleksikan nasihat seorang teman untuk tetap menikmati kariernya di tengah pasang surut industri.

"Secara teknis, setiap barometer yang kami gunakan di industri untuk menentukan apakah sebuah film bagus atau tidak menunjukkan hasil yang luar biasa, namun angka box office-nya tidak ada di sana," ungkap DaCosta.

Ia optimis film ini adalah sebuah cult classic masa depan yang akan ditemukan dan dicintai oleh penonton seiring berjalannya waktu melalui platform streaming atau media lainnya.

Kegagalan komersial ini menimbulkan tanda tanya mengenai nasib film ketiga. Namun, hingga saat ini Sony belum memberikan pernyataan pembatalan.

Banyak pihak berharap Sony melihat kegagalan ini sebagai kesalahan strategi tanggal rilis (mismanajemen pemasaran), bukan karena penurunan minat publik atau kualitas cerita.


(ass/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO