Menelusuri Jejak Seni dan Sains di Paviliun Raden Saleh
Raden Saleh dikenal sebagai maestro seni modern Indonesia yang sudah mendunia. Jejaknya dalam skena seni dan sains khususnya saat tinggal di Cikini, Jakarta Pusat, sayangnya luput dan seakan terlupakan.
Merayakan pembukaan Paviliun Raden Saleh by ARTOTEL Curated, pihak hotel menyelenggarakan pameran Raden Saleh & Cikini, Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan. Eksibisi yang memuat jejak arsip bakal dibuka untuk umum mulai 21 April 2026 di area selasar.
Pameran seni dikurasi oleh Dewan Kesenian Jakarta yang diwakili oleh ketuanya. Dalam sambutannya, Bambang Prihadi mengatakan sosok Raden Saleh gak luput dari keberadaan rumah pribadinya di Cikini dan kiprahnya dalam pembangunan area jadi kebun binatang.
"Nama Raden Saleh diusulkan DKJ sebagai pengingat bagi kita seorang pelukis besar yang berkontribusi pada gerakan seni dan ilmu pengetahuan," katanya saat opening Paviliun Raden Saleh, kawasan Taman Ismail Marzuki, Senin (20/4/2026).
Pameran Seni Raden Saleh dan Cikini di Paviliun Raden Saleh, TIM, Jakarta Pusat. Foto: Dok.Tia Agnes/ detikcom |
Kurator pameran, Akbar Yumni mengatakan periode Cikini sering dilupakan dalam eksibisi-eksibisi besar soal Raden Saleh. Jika biasanya hanya membicarakan soal lukisan yang laku di balai lelang, pameran kali ini terbilang berbeda.
"Jejak seni dan sains sudah dimulai sejak zaman Raden Saleh. Kita tahu hebatnya sosoknya sebagai pelukis di Eropa sejak lama. Di Belanda, Eropa, Jerman, pengakuan globalnya luar biasa. Kami sebagai tim kurator menelisik dua hal tersebut dalam konteks di Cikini," terang Akbar Yumni.
Pria yang juga berkecimpung dalam anggota Komite Teater DKJ itu juga cerita ada momen saat Raden Saleh masih tinggal di Cikini, Ratu Juliana asal Belanda juga berkunjung dan mampir ke TIM.
Pameran Seni Raden Saleh dan Cikini di Paviliun Raden Saleh, TIM, Jakarta Pusat. Foto: Dok.Tia Agnes/ detikcom |
"TIM sebagai pusat kesenian, jadi artinya kalau mau Jakarta jadi kota global maka lihatlah TIM. Jejaring ini sudah terbentuk sejak zaman Raden Saleh," katanya.
Dalam ruang selasar lantai 8 Gedung Ali Sadikin atau Paviliun Raden Saleh by ARTOTEL CURATED, ada mural-mural binatang yang jadi arsip sang maestro dan penggambaran Penangkapan Diponegoro. Arsip-arsip yang disajikan juga memuat pameran di Kebun Binatang di Batavia pada 1893, pertunjukan Oedipus di Taman Botani dan kebun binatang Batavia pada Agustus 1922. Ada hasil jepretan dalam arsip yang dipamerkan panggung diubah jadi kuil Yunani dengan altar dan Jocasta di bagian depannya.
Pada 1924, juga ada pemutaran film untuk para anggota di Cikini. Pada 1942, area tersebut pun diubah namanya jadi Taman Raden Saleh di zaman penjajahan Jepang. Kebun binatang pun dikelola pemerintah DKI sampai 1964 dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan.
Taman Ismail Marzuki pun diubah jadi pusat kesenian Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977.
Pameran Raden Saleh & Cikini, Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan' di Paviliun Raden Saleh Artotel Curated Foto: (Muhammad Lugas Pribady/detikcom) |



