Joko Anwar Sebut Ghost in the Cell Jadi Cerminan Absurditas di Indonesia

Pingkan Anggraini
|
detikPop
Ghost In the Cell (2026).
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Sutradara Joko Anwar kembali menggebrak lewat karya terbarunya, Ghost in the Cell. Dalam acara press screening yang berlangsung meriah, Joko mengungkapkan film ini bukan sekadar horor biasa, melainkan sebuah 'surat cinta' sekaligus kritik pedas terhadap kondisi sosial politik di Tanah Air.

Joko bercerita proses kreatif film ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2018. Awalnya, ia memiliki harapan kondisi Indonesia akan membaik saat film ini dirilis pada 2025-2026.

Namun, kenyataan berkata lain. "Kita berharap dari 2018 ke 2025 itu Indonesia membaik, ternyata gak. Jadi kita mencoba untuk meng-encapsulate Indonesia dalam satu film ini," ujarnya di hadapan awak media.

Satu kata yang terus muncul dalam benak Joko selama pengembangan naskah adalah absurd. Ia merasa Indonesia saat ini berada dalam titik di mana segala kegilaan, mulai dari korupsi ratusan triliun hingga polusi yang menyesakkan, dihadapi dengan ketenangan yang aneh oleh masyarakatnya.

"Indonesia tuh saking absurd banget, kita nggak tahu gimana lagi. Jadi aku mencoba membuat skenario ini juga bisa me-capture itu," tambahnya.

Dalam Ghost in the Cell, penjara digambarkan sebagai metafora sebuah negara, di mana para narapidana adalah representasi warga negara yang terjebak dalam sistem yang sakit.

Joko menekankan bahwa sebagian besar masyarakat tidak memiliki privilege untuk 'kabur' dari kenyataan tersebut. Namun, ia tetap menyisipkan sedikit cahaya di tengah kegelapan cerita.

Meskipun film ini lahir dari kemuakan kolektif, Joko menyisakan 10 persen harapan bagi mereka yang masih ingin berjuang untuk Indonesia. Mengenai sosok 'hantu' yang ada dalam film, Joko memberikan penjelasan yang mendalam.

Alih-alih makhluk mistis tradisional, hantu dalam film ini adalah representasi dari sisi terburuk manusia.

"Hantu adalah kita dalam kondisi terburuk kita. Ketika kita sangat negatif, hopeless, dan korup, itulah hantu kita," pungkasnya.

Sebelumnya Ghost in the Cell akan tayang di 86 negara di dunia. Hak penayangan termasuk penayangan bioskop film Ghost in the Cell kini sudah dibeli oleh 86 negara, bahkan sebelum filmnya tayang di Indonesia 16 April nanti.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.


(ass/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO