Novel-novel Eka Kurniawan Dibaca Gen Z, Ini Tanggapannya

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Penulis Indonesia Eka Kurniawan saat ditemui media gathering di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (10/3/2026).
Foto: Dok.Anisa Hafifah/ 20Detik
Jakarta - Eka Kurniawan dikenal sebagai novelis Cantik Itu Luka hingga Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong. Karya-karya sastranya pun telah mendunia dan dikenal publik internasional.

Berkarya sejak tiga dekade lalu, Eka ngaku kaget karena kutipan karya-karyanya beredar di media sosial dan dibaca generasi muda.

"Ada yang saya nyaman dan oke-oke aja. Saya merasa ketika karya itu terbit tahun 2000-an, pembaca sastra secara umum masih terbatas. Orang yang baca novel saya juga itu-itu saja," ucapnya saat media gathering di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).

Di momen itu, ranah industri buku seperti masih dalam 'bubble'. Kini di masa sekarang, seakan pembaca bertambah dan ada di luar bubble-bubble lainnya.

"Ya, gak bisa ditolak juga. Orang yang mungkin bacaannya novel berbeda, bakal tertipu dengan judulnya dan covernya. Trus kaget sendiri. Dalam bayangan kita selama ini, (pembaca) anak sastra Indonesia. Gak kebayang, sekarang anak usia 17 tahun atau SMA gitu baca novel saya," katanya tertawa.

Sebenarnya, Eka mengaku ketika menulis sampai menerbitkannya bukan untuk segmen pembaca remaja. Tapi gak bisa dipungkiri, remaja mulai pembacanya.

"Ya, yang saya bilang. Saya menulis novel bukan untuk anak remaja, kita gak bisa menutup anak remaja sudah baca. Secara general, Indonesia gak se-antisipasi itu, ada anak-anak sekolah yang mengantisipasinya juga," terang Eka.

Di antara buku-bukunya yang terbit, Eka merekomendasikan novel Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan Cinta Tak Ada Mati.

Profil Eka Kurniawan

Eka Kurniawan adalah salah satu sastrawan Indonesia yang mulai menggemparkan kancah internasional atas novel yang telah ditulisnya. Novelnya berjudul Cantik Itu Luka. Atas ide dan keseriusan mengemas cerita, novel tersebut berhasil menembus penghargaan World Reader's Award 2016 yang diselenggarakan di Hongkong.

Penghargaan itu pun menjembatani buku-bukunya untuk diterbitkan di tiga negara Eropa, yaitu Jerman, Polandia, dan Norwegia. Tidak hanya itu, 30 negara lainnya ikut menerjemahkan novel yang dirilis pada tahun 2002.

Eka Kurniawan terpilih sebagai salah satu "Global Thinkers of 2015" dari jurnal Foreign Policy. Pada tahun 2016, ia menjadi penulis Indonesia pertama yang dinominasikan untuk Man Booker International Prize.

Novelnya yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas sukses diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada tahun 2021. Film ini masuk dalam daftar nominasi Festival Film Indonesia 2022. Pada 2021, film ini meraih penghargaan Golden Leopard dalam Festival Film Locarno.




(tia/ass)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO