Di Balik Karya Seni Instalasi Kertas 'Bertumpuk' Irfan Hendrian
Nama Irfan Hendrian dikenal sebagai seniman multitalenta sekaligus desainer yang konsisten berkarya memakai medium kertas. Sejak awal 2010, ia sukses menggelar pameran seni tunggal dan kelompok ke mancanegara yang juga kini dikenal sebagai printmaker industrial.
Mengawali 2026, ara contemporary menampilkan pameran solo Irfan Hendrian yang berjudul Closed. Lebih dari 20-an karya seni instalasi dan patung dipamerkan di galeri seni yang berada di Jalan Tulodong Atas, kawasan Senayan, Jakarta Pusat, yang bakal dibuka untuk umum esok hari.
Pendiri ara contemporary, Fiesta Ramadanti, cerita sosok Irfan Hendrian yang menantang kertas yang identik dengan material tipis dan fragile sampai menciptakan karya seni yang kokoh bermula dari sebuah kegelisahan.
"Seiring berjalannya waktu, Irfan menggali lebih dalam dari kertas karena ketika kertas sudah diisi kata, kalimat, dan bisa jadi alat yang powerfull. Di pameran ini, Irfan menghubungkan dengan identitas dari etnis Tionghoa di Indonesia, yang gak bisa dipungkiri ada trauma kolektif," ucapnya saat ditemui di ara contemporary, Jumat (30/1/2026).
Seniman Irfan Hendrian Pameran Tunggal Closed di ara contemporary. Foto: Dok.Tia Agnes/ detikcom |
Sebelum mulai membuat karya, Irfan yang juga etnis Tionghoa peranakan mulai melakukan riset arsitektural di area China Town di Bandung. Ia melihat masih banyak bangunan dan ruko yang memakai konsep protektif tinggi dengan pagar tinggi dan teralis yang rapat.
Awal 2024, Irfan mulai membuat seri teralis yang dicetak dari material kertas bertumpuk. Dari seri teralis, ia mulai menjelajah kepada cerita di balik peristiwa yang mengakibatkan trauma kolektif bagi etnis Tionghoa di Indonesia.
"Waktu kecil, saya suka main ke ruko teman, bagi saya pengalaman asing banget. Ruko yang jadi rumahnya ada teralis dari depan dan semakin ke dalam engap banget. Kerusuhan di China Town Bandung itu terakhir tahun 1973, waktu peristiwa '98 gak ada apa-apa," ucapnya.
Irfan pun mewawancarai arsitek yang merenovasi ruko jadi rumah dan masih ada konsep barikade. Pintu depan dipasangi kunci berlapis dan teralis di setiap jendela serta pintunya. "Trauma kolektif itu pun masih ada," ucapnya.
Ia pun memperlihatkannya lewat Chinatown Window Sample, Paranoia Holder sampai Emas Beras. Dalam karya seri teralis ada dua yang spesial: The Sahroni dan The Sri Mulyani, yang di depan permukaan ada foto-foto saat peristiwa penjarahan di rumah dua sosok tersebut.
Bagaimana proses kreatif Irfan Hendrian dalam menggelar pameran seni Closed? Simak artikel berikutnya.
Seniman Irfan Hendrian Pameran Tunggal Closed di ara contemporary. Foto: Dok.ara contemporary |
(tia/ass)













































