Pengakuan Mantan dan Alasan Elon Musk Ingin Punya Banyak Anak

Asep Syaifullah
|
detikPop
U.S. President Donald Trump and Elon Musk attend a press conference in the Oval Office of the White House in Washington, D.C., U.S., May 30, 2025. REUTERS/Nathan Howard
Foto: REUTERS/Nathan Howard
Jakarta - Mantan kekasih Elon Musk, Ashley St. Clair, menjadi sorotan di Festival Film Venesia saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter terbaru bertajuk Musk karya sutradara pemenang Oscar, Alex Gibney.

Dalam kesempatan tersebut, mantan influencer politik tersebut membeberkan berbagai pengakuan mengejutkan mengenai hubungannya dengan bos Tesla dan SpaceX itu.

Salah satu klaim paling menyita perhatian adalah pesan teks yang pernah dikirimkan Musk kepadanya saat mereka membahas tentang memiliki anak.

Menurut St. Clair, miliarder teknologi itu pernah menyatakan keinginannya untuk memiliki "banyak anak (legion of children) sebelum perang saudara meletus."

Dari hubungan tersebut, St. Clair melahirkan anak ke-13 Musk pada 2024 sebelum akhirnya mereka berpisah.

St. Clair mengungkapkan bahwa dirinya sempat ditawari paket uang pembungkam bernilai fantastis-mencapai 40 juta dolar AS (sekitar Rp615 miliar) ditambah tunjangan bulanan 100 ribu dolar AS-oleh tim hukum Musk agar ia menandatangani non-disclosure agreement (NDA).

Ashley St ClairAshley St Clair Foto: Dok. Ist

Namun, ia memilih menolak penawaran tersebut demi bisa berbicara jujur di film dokumenter ini.

"Ketika Anda ditawari uang sebanyak itu, tentu timbul perdebatan di dalam pikiran Anda. Namun yang terpenting, saya ingin memberi contoh kepada anak-anak saya bahwa kita tidak boleh mengorbankan kebenaran hanya demi kenyamanan materi," tegas St. Clair saat konferensi pers.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Elon Musk melalui unggahan di platform X.

Musk menyebut bahwa tawaran tersebut tidak pernah ada dan menganggap St. Clair kerap membuat pernyataan palsu.

Selain urusan pribadi, St. Clair juga memberikan kritik tajam terhadap perilaku Musk dalam mengelola platform media sosial X (sebelumnya Twitter).

Ia menilai Musk secara sadar memilih untuk menolak empati dan sengaja memicu perpecahan politik di tengah masyarakat melalui algoritma X yang diperkuat.

"Apapun motifnya, apa yang dia lakukan dengan platform X tidak bisa diabaikan karena dia sedang menyulut kobaran api yang sebenarnya tidak ada di dunia nyata," ujar St. Clair.

Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut menciptakan dampak nyata di dunia luar yang dapat berakibat fatal jika tidak dikendalikan.

Dokumenter berdurasi hampir empat jam garapan Alex Gibney ini menelusuri perjalanan hidup Elon Musk, mulai dari masa kecilnya yang traumatis di Afrika Selatan, kesuksesannya di Silicon Valley, hingga pengaruh politiknya yang kian besar.

Film dokumenter Musk dijadwalkan tayang di beberapa bioskop di Amerika Serikat pada Oktober 2026.

(ass/tia)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO