×
Ad

Charlize Theron Kenang Momen Sang Ibu Tembak Mati Ayahnya

Asep Syaifullah - detikPop
Minggu, 19 Apr 2026 13:14 WIB
Foto: Frazer Harrison/Getty Images
Jakarta -

Dalam wawancara terbaru yang diterbitkan oleh The New York Times pada Minggu (19/4/2026), aktris pemenang Oscar, Charlize Theron, membagikan detail menyentuh mengenai masa pertumbuhannya yang sulit di Afrika Selatan.

Di usia 50 tahun, Theron merefleksikan bagaimana kecanduan alkohol sang ayah dan ketegangan di rumah membentuk ketangguhan dirinya saat ini.

Theron mengungkapkan bahwa kenangan masa kecilnya didominasi oleh pemandangan orang-orang mabuk yang merangkak di lantai. Ayahnya, Charles Theron, bahkan membangun sebuah bar besar di dalam rumah mereka, yang membuat situasi tersebut menjadi pemandangan rutin hampir setiap minggu.

"Ayah saya sering menghilang, dan kami tidak tahu dia di mana. Dia biasanya kembali dalam kondisi yang cukup parah," kenang Theron.

Kondisi ini sering kali memicu pertengkaran hebat antara kedua orang tuanya.

Meskipun tidak ada kekerasan fisik yang dialaminya secara langsung, Theron menggambarkan rumahnya sebagai tempat yang penuh dengan ancaman dan kekerasan verbal.

Namun, baginya, hal yang paling menyiksa bukanlah teriakan, melainkan keheningan setelah pertengkaran.

"Hal terburuk bagi saya adalah ketika mereka saling mendiamkan. Setelah pertengkaran besar, mereka tidak akan bicara selama tiga minggu. Saya tidak punya saudara, dan rumah itu seketika menjadi sangat sunyi," ungkapnya.

Karena menyadari dampak buruk lingkungan rumah terhadap putrinya, sang ibu, Gerda, akhirnya memutuskan untuk memasukkan Theron ke sekolah asrama guna menjauhkannya dari situasi beracun tersebut.

Puncak dari ketegangan bertahun-tahun ini terjadi pada1991, ketika Theron berusia 15 tahun. Dalam sebuah insiden pembelaan diri, Gerda menembak mati suaminya.

Kejadian bermula ketika ayah Theron pulang bersama saudara laki-lakinya (paman Theron). Dalam kondisi emosi yang tak terkendali, sang ayah menembak pintu keamanan baja rumah mereka hingga jebol.

Theron mengenang ancaman verbal yang sangat jelas malam itu. Ayahnya berteriak, "Aku akan membunuh kalian malam ini. Kalian pikir aku tidak bisa masuk lewat pintu ini? Lihat saja. Aku akan ke brankas. Aku akan mengambil senapan shotgun."

Mendengar ancaman tersebut, Gerda bertindak cepat. Ia berlari ke brankas senjata keluarga, mengambil senjatanya sendiri, dan segera menuju kamar tidur Theron.

Karena pintu kamar tidak memiliki kunci, ibu dan anak ini terpaksa menggunakan tubuh mereka sendiri sebagai palang pintu, menahan sekuat tenaga agar sang ayah tidak bisa masuk.

Situasi menjadi sangat gila ketika sang ayah mulai menembak secara membabi buta menembus pintu kamar tersebut.

"Dia mundur selangkah dan mulai menembak menembus pintu," kenang Theron. "Dan ini hal yang luar biasa, tidak ada satu pun peluru yang mengenai kami."

Saat sang ayah beranjak dari pintu menuju brankas untuk mengambil senapan shotgun sesuai ancamannya, Gerda memutuskan untuk bergerak. Ia membuka pintu kamar dan melihat paman Theron masih berada di lorong.

Gerda melepaskan satu tembakan peringatan ke arah lorong; peluru tersebut memantul tujuh kali hingga akhirnya mengenai tangan sang paman.

Gerda kemudian mengejar suaminya yang sedang berada di depan brankas untuk mengambil senjata tambahan. Dalam momen hidup dan mati tersebut, Gerda melepaskan tembakan yang akhirnya menewaskan suaminya di tempat.

Setelah melalui penyelidikan menyeluruh, pihak kepolisian menyatakan bahwa tindakan Gerda Theron adalah respons langsung terhadap ancaman yang nyata dan mematikan.

Tidak ada tuntutan hukum yang dijatuhkan kepadanya karena kasus tersebut secara resmi dinyatakan sebagai tindakan pembelaan diri (self-defense).

Theron menjelaskan bahwa tragedi tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari tekanan yang menumpuk selama bertahun-tahun.

"Orang-orang cenderung menjauhi kejadian itu dan hanya ingin membahas satu hal tersebut. Penting untuk menjelaskan bahwa hal-hal ini terus menumpuk hingga akhirnya mencapai titik di mana semuanya menjadi sangat salah di rumah saya," jelas bintang film Monster tersebut.

Satu tahun setelah tragedi tersebut, pada usia 16 tahun, Theron meninggalkan Afrika Selatan untuk mengejar karier model di Eropa.

Ia merasa sangat siap menghadapi dunia luar karena didikan keras yang ia terima di rumah dan kondisi negaranya saat itu.

"Saya tahu cara memasak, cara menjahit. Saya tahu lebih banyak tentang cara menjaga diri sendiri dibandingkan anak-anak saya nanti saat mereka dewasa. Saya tahu saya akan bisa bertahan hidup," tegas Theron.

Motivasi terbesarnya saat itu adalah keinginan kuat untuk sukses agar tidak perlu kembali ke masa lalunya yang kelam.

"Saya sangat bertekad untuk melakukannya sendiri dan tidak gagal, karena saya tidak ingin kembali ke sana," pungkasnya.



Simak Video "Video: Keji! Ayah di Gorontalo Aniaya Bayi Sambil Video Call Istri"

(ass/nu2)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork