Alasan The Jansen Bawa Isu Karhutla Saat Manggung

Febryantino Nur Pratama
|
detikPop
The Jansen di Magnumotion Loud Fest 2026
Foto: Dok.Febriyantino/ detikpop
Jakarta - Band punk asal Bogor, The Jansen, tampil di Magnumotion Loudfest 2026 yang digelar di Sentul Otopark, Jawa Barat, Sabtu (22/8/2026). Tak cuma menggeber musik punk The Jansen juga membawa pesan soal kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera.

The Jansen tampil bersama sejumlah band dari skena musik keras dan indie. Di antaranya Seringai, for Revenge, Morfem, Stand Here Alone, The Paps, 510, Threesixty, Cloath, Kraken, Bloomhcrew, dan My Beloved Enemy.

Vokalis The Jansen, Cintarama Bani Satria alias Tata, mengaku puas dengan respons penonton saat mereka membawakan materi terbaru.

"Ya, pastinya seru ya, bergairah gitu. Ditambah saya senang sekali karena teman-teman yang menonton juga antusias mendengarkan single-single kami yang baru," kata Tata usai manggung di Magnumotion Loudfest 2026, Sentul, Bogor Jawa Barat pada Sabtu (22/8/2026).

Dalam penampilan tersebut, The Jansen membawakan dua lagu dari album terbaru mereka, Romantisasi Impulsif. Dua lagu itu yakni Jika Hidup Mengharapkan Menjadi Jutawan dan Jika Hidup Hanya Sekadar Berjalan.

"Ya itu dua lagu dari album kami yang terbaru, 'Romantisasi Impulsif'," ujar Tata.

Ada pesan khusus yang dibawa The Jansen saat tampil di atas panggung. Mereka merespons kondisi kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Basis The Jansen, Adji, mengatakan isu tersebut sengaja diangkat agar penonton mengetahui kondisi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, kebakaran hutan dan asap mulai berdampak terhadap warga.

"Seperti situasi yang terjadi sekarang ya, di mana Kalimantan sedang terjadi kebakaran hutan yang cukup parah," kata Adji.

Adji menyebut persoalan tersebut tak hanya berkaitan dengan lingkungan. Asap kebakaran juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

"Isu-isu kesehatan ISPA kayak gitu kan sangat berbahaya, apalagi untuk orang tua, anak kecil," ujarnya.

Dia mengaku mendapat pesan dari sejumlah orang mengenai kondisi asap yang sudah masuk ke kawasan pemukiman. "Bahkan ada yang sampai message kami kalau asap tuh sudah sampai ke pemukiman, terus untuk berangkat sekolah tuh sudah terkepung asap," tutur Adji.

Lewat panggung Loudfest, The Jansen berharap penonton bisa ikut aware dan mencari cara untuk membantu masyarakat yang terdampak.

"Ya, dan sengaja kami tampilkan agar mungkin bisa teman-teman yang lain juga tahu kondisinya sekarang seperti apa dan bisa saling bantu juga," kata Adji.

Tata menambahkan masih banyak kondisi di lapangan yang belum mendapatkan perhatian luas. Karena itu, mereka memanfaatkan panggung musik untuk menyampaikan informasi tersebut. "Sekarang ini kan ada banyak berita yang tidak terberitakan, jadi ya kami gunakan fasilitas ini untuk berbagi juga deh keadaan sekitar agar bisa tetap saling membantu," ujar Tata.

Bagi The Jansen, Magnumotion Loudfest 2026 juga menjadi momen spesial. Sebab, festival musik keras dengan line-up yang relatif satu warna seperti ini dinilai masih jarang digelar di Bogor dan sekitarnya.

"Yang pasti senang sekali bisa bermain di musik festival yang keras ya bisa dibilang, dan itu jarang banget di Bogor maupun kota atau kabupatennya," kata Tata.

The Jansen sebelumnya juga mengikuti rangkaian road to Magnumotion di tiga kota, yakni Bogor, Tangerang, dan Jakarta. Sekitar satu dekade berkiprah di skena musik, The Jansen melihat perkembangan musik keras saat ini semakin beragam. Band-band baru terus bermunculan dan menawarkan gaya serta movement masing-masing.

"Pastinya musik hari ini, mungkin untuk yang keras dulu ini ya karena kita di Magnumotion, ya makin beragam, makin seru gitu ya, makin banyak bermunculan band-band baru juga," tutur Tata.

Meskipun begitu, The Jansen ngaku tidak punya strategi khusus untuk bertahan. Mereka memilih fokus pada proses kreatif.

"Kalau dari kami sendiri, kami enggak pernah punya strategi untuk jalanin ini sih. Tapi yang pasti yang kami lakukan sejauh ini adalah menulis lagu, rekaman, dan rilis, itu aja sih. Konsisten dalam berkarya," kata Tata.

Soal penggemar musik keras, Tata optimistis The Jansen masih punya tempat. Dia percaya setiap karya akan menemukan pendengarnya sendiri.

"Pasti sih setiap karya pasti punya takdirnya masing-masing, punya pendengarnya masing-masing juga. Jadi pasti ada, pasti ada, pasti ada," ujar Tata.

The Jansen juga memastikan perjalanan mereka belum berhenti. Album terbaru Romantisasi Impulsif baru saja dirilis dan menjadi album kelima mereka.

"Oh kami sudah masuk kemarin rilis, baru saja rilis album terbaru kami yang kelima, 'Romantisasi Impulsif'. Dan dua lagu tadi dimainkan, jadi bagian dari album itu. Ada 12 track di dalamnya," kata Tata.

(fbr/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO