Inggit A Wulan akhirnya resmi merilis EP perdananya bertajuk Memoar. Ini menjadi sebuah penantian panjang pendengar musiknya loh.
Dalam keterangan pers, Senin (27/4/2026), mini album ini menjadi sebuah karya yang menjadi penanda fase baru dalam perjalanan bermusiknya.
Dirilis di seluruh platform digital, EP ini menghadirkan empat lagu yang merangkai cerita personal tentang proses pendewasaan diri. Perilisan EP ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Inggit A Wulan, 25 April 2026, menjadikannya momen yang semakin personal dan bermakna dalam perjalanan kariernya.
"EP ini seperti langkah baru bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya bisa bercerita secara utuh, bukan hanya lewat satu lagu, tapi melalui satu rangkaian cerita," ujar Inggit A Wulan.
Melalui Memoar, Inggit A Wulan mengangkat konsep besar Perjalanan Pulang ke Diri Sendiri, sebuah refleksi emosional yang dituangkan dalam tiap lagu. EP ini merepresentasikan tahapan perasaan manusia, mulai dari harapan dalam kasih sayang, kesadaran akan kefanaan hidup, pengalaman kehilangan, hingga pencarian makna di tengah kesepian.
"Memoar adalah catatan jujur tentang apa yang saya rasakan, lihat, dan alami dalam hidup. Ini bukan hanya kumpulan lagu, tapi perjalanan untuk memahami diri sendiri dan menemukan arah untuk pulang," jelas Inggit.
Dari sisi musikalitas, EP ini mengusung warna pop rock, rock, dan slow rock yang bertenaga namun tetap emosional. Bagi Inggit, genre rock menjadi medium paling jujur untuk menyampaikan keresahan batin yang menjadi benang merah dalam karya ini.
EP Memoar terdiri dari empat lagu, Cinta Bertahanlah, Serupa Embun, Teman Sejati, dan Kesepian. Lagu Serupa Embun dipilih sebagai single utama karena membawa pesan universal tentang kerendahan hati dan rasa syukur, sekaligus menjadi inti dari keseluruhan narasi EP ini.
"Serupa Embun adalah jantung dari EP ini. Pesannya sederhana, tapi sangat dekat dengan kehidupan, tentang belajar rendah hati dan bersyukur," ungkapnya.
Proses kreatif EP ini menjadi pengalaman yang sangat personal. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga kejujuran rasa dalam setiap lagu, dengan menggali kembali pengalaman-pengalaman yang mendalam agar pesan yang disampaikan terasa autentik.
Melalui Memoar, Inggit berharap para pendengar dapat merasa ditemani dalam momen-momen rapuh mereka.
"Tidak apa-apa menjadi manusia yang tidak sempurna. Yang penting, kita tahu ke mana harus kembali pulang. Kalau lagu-lagu ini bisa menemani satu orang saja di momen sulitnya, itu sudah sangat berarti buat saya," tutur Inggit.
Simak Video "Video: Gaya Member U-KISS saat di Jakarta"
(pig/dar)