Serangan Pemerintah dan Militer Israel untuk Kreator NAZA

Asep Syaifullah
|
detikPop
NAZA (2026)
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Pemerintah dan militer Israel meningkatkan tekanan terhadap para pembuat film dokumenter berjudul NAZA.

Dokumenter yang baru saja meraih penghargaan di Venice Film Festival ini membeberkan kesaksian internal militer dan intelijen Israel terkait kejahatan perang serta mekanisme serangan yang menewaskan warga sipil di Jalur Gaza.

Atas penayangan film tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh dokumenter itu sebagai bentuk "hasutan antisemit."

Sementara itu, pihak militer mempertimbangkan langkah hukum, dan pejabat tinggi pemerintah mengancam akan mencabut kewarganegaraan sang sutradara.

Dokumenter NAZA disutradarai oleh pemenang Festival Film Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Film ini memenangkan Special Jury Prize pada Festival Film Internasional Venice ke-83. Film ini merangkum kesaksian rahasia dari 24 personel militer dan intelijen Israel.

Dalam wawancara yang direkam secara tersembunyi selama tiga tahun di rooftop kawasan Tel Aviv, wajah dan suara para narasumber disamarkan secara digital demi keselamatan mereka.

Para saksi menceritakan berbagai praktik di lapangan, antara lain:

Penargetan Rumah Warga: Serangan udara tetap dilakukan ke rumah-rumah warga meskipun militer tahu di dalamnya terdapat warga sipil dan anggota keluarga.

Penggunaan AI dalam Penargetan: Penggunaan sistem kecerdasan buatan dan pengawasan ketat untuk menentukan target serangan.

Kejahatan di Lapangan: Pembakaran wilayah pemukiman pengungsi Palestina secara sengaja hingga penembakan terhadap warga saat pembagian bantuan makanan.

Beberapa narasumber diketahui berasal dari unit intelijen rahasia yang memiliki akses langsung ke kantor Perdana Menteri Netanyahu.

Reaksi Keras dari Pejabat dan Militer Israel

Penghargaan yang diraih NAZA di ajang internasional langsung memicu gelombang kecaman dari internal Israel:

Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri): Menyatakan dalam sebuah video bahwa Israel tidak hanya menghadapi "hasutan antisemit" dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negerinya sendiri.

Eyal Zamir (Panglima Militer Israel): Memerintahkan jaksa militer untuk memproses hukum pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film tersebut. Militer Israel mengklaim isi dokumenter tersebut memuat "klaim palsu" dan berpotensi membahayakan keamanan negara.

Pihak militer juga membantah tuduhan penggunaan AI dalam penargetan otomatis dan menegaskan bahwa keputusan serangan selalu diambil oleh manusia.

Miki Zohar (Menteri Kebudayaan): Mengancam akan mengupayakan pencabutan status kewarganegaraan Israel milik Yuval Abraham dan Rachel Szor karena dianggap telah mengkhianati negara.

Itamar Ben-Gvir (Menteri Keamanan Nasional): Menyebut para pembuat film tersebut sebagai "aib dan sumber kehancuran."

Kecaman keras ini muncul di tengah meningkatnya sorotan dunia internasional terhadap aksi militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023.

Menurut data otoritas kesehatan setempat, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 73.600 warga Palestina, dengan data PBB mengindikasikan lebih dari 20.000 di antaranya adalah anak-anak.

(ass/tia)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO