×
Ad

AI Bakal Diatur Ketat Buat Drama China

Dicky Ardian - detikPop
Senin, 14 Sep 2026 09:01 WIB
Drama China AI (Foto: Weibo)
Jakarta -

AI memang bikin produksi konten jadi makin gampang. Tapi di China, kemudahan itu sekarang mulai punya batas, terutama buat industri drama pendek yang lagi naik daun banget.

Mahkamah Agung China baru saja menerbitkan panduan hukum yang memperketat penggunaan AI untuk face-swapping dan kloning suara tanpa izin. Jadi, kalau wajah atau suara seseorang yang bisa dikenali dipakai tanpa persetujuan, urusannya gak lagi sekadar konten iseng, tapi bisa masuk pelanggaran hukum.

Aturan ini muncul ketika popularitas micro-drama di China sedang gila-gilaan. Sepanjang 2025, sekitar 33 ribu drama pendek tayang dan ditonton hampir 700 juta orang di dalam negeri.

Uangnya juga gak main-main. Nilai industri ini tembus 100 miliar yuan atau sekitar Rp 261,49 triliun pada 2025, bahkan naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Masalahnya, pertumbuhan secepat itu ternyata ikut membawa sisi gelap. Ada produsen konten murah yang memanfaatkan AI untuk memasukkan wajah dan suara artis terkenal seperti Song Weilong, Yang Zi, Xiao Zhan, sampai Dilraba Dilmurat demi menarik perhatian penonton.

Buat kreator yang benar-benar produksi secara legal, praktik seperti ini jelas bikin gerah. Sutradara sekaligus pemilik studio produksi AI, Feng Anrong, bahkan menyebut maraknya tayangan AI bodong dengan biaya supermurah sempat mengganggu ekosistem industri.

Bayangin, satu pihak keluar biaya untuk bikin naskah, sewa lokasi, sampai membayar aktor secara resmi, sementara pihak lain bisa memanfaatkan AI dan identitas artis untuk bikin konten dengan modal jauh lebih kecil.

Karena itu, aturan baru ini dipandang bisa bikin model bisnis semacam tadi makin berisiko. Analis industri Zhang Peng menilai pengetatan hukum dapat memberi tekanan lebih besar kepada pihak yang selama ini mengandalkan pencurian konten atau identitas lewat AI.

Tapi bukan berarti China mau memusuhi AI sepenuhnya. Teknologi ini masih boleh dipakai untuk membantu proses kreatif, termasuk menulis naskah, mengerjakan pascaproduksi, sampai mengedit suara.

Yang mulai dipersempit adalah penggunaan AI untuk mengambil identitas orang lain tanpa izin. Jadi, masalahnya bukan sekadar pakai AI atau gak, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Langkah ini juga menarik karena drama pendek China sudah gak cuma populer di negaranya sendiri. Aplikasi micro-drama asal China kini agresif masuk ke Asia Tenggara, Timur Tengah, sampai Amerika Utara.

Pada awal 2025, total unduhan aplikasi drama pendek asal China bahkan sudah menembus 270 juta kali. Kalau tren ini terus berkembang, aturan soal penggunaan wajah dan suara lewat AI kemungkinan bakal ikut menjadi perhatian di pasar global.



Simak Video "Video Pesan Wapres Gibran untuk Generasi Muda: Gunakan AI untuk Belajar"

(dar/wes)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork