Skandal AI di Drama China: Efisiensi Teknologi atau Kemunduran Kreativitas?
Insiden ini memicu debat nasional mengenai etika penggunaan AI dalam karya seni dan profesionalisme rumah produksi di era digital.
Dilansir dari The Strait Times (8/4) akhir Maret, sejumlah blogger, termasuk para penggemar busana tradisional Tiongkok dan model menuduh serial populer berjudul Peach Blossom Hairpin memakai AI.
Baca juga: Sold Out! Tiket IMAX Dune 3 Seharga Motor |
Hal ini bertujuan untuk mereplikasi fitur wajah, pakaian, dan riasan mereka tanpa izin demi menciptakan karakter yang disebarluaskan secara masif di berbagai platform video pendek.
Pada saat itu, serial tersebut telah mengumpulkan lebih dari 40 juta penayangan di Hongguo, sebuah platform drama mikro, dan beberapa pihak yang diduga menjadi korban menyatakan, mereka sedang bersiap untuk menempuh jalur hukum.
Pada 3 April, Hongguo menyatakan melalui akun resmi WeChat miliknya, serial tersebut telah ditarik dan tidak akan ada konten baru yang diunggah selama 15 hari.
Hal ini dilakukan karena, kreator serial tersebut gagal memberikan bukti kepatuhan yang memadai terhadap peraturan yang mengatur penggunaan citra wajah.
Pihak platform menegaskan, kepatuhan terhadap standar hukum dan regulasi adalah batasan dasar yang tidak dapat ditawar.
Namun, mereka juga mencatat drama pendek, sebagai bentuk produk kreatif baru, menghadirkan tantangan besar dalam peninjauan konten, terutama dengan semakin maraknya penggunaan alat bantu AI.
Hongguo berkomitmen untuk memperkuat proses peninjauan konten, meningkatkan teknologi verifikasi, serta memperbaiki prosedur perizinan guna menciptakan lingkungan yang lebih tertata bagi pembuatan dan distribusi konten.
Zhao Zhanling, seorang pengacara di Beijing Javy Law Firm, menyatakan berdasarkan hukum perdata dan praktik hukum yang berlaku, jika wajah yang dihasilkan oleh AI menyebabkan publik mengaitkannya dengan individu tertentu, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai sebuah pelanggaran.
"Menyalin citra seseorang dan memprosesnya dengan AI adalah contoh nyata dari penggunaan teknologi informasi untuk melanggar hak potret seseorang," ujar Zhao.
Seiring dengan semakin lazimnya teknologi AI di industri film dan televisi, kasus serupa terkait pertukaran wajah dan suara berbasis AI menjadi kian sering terjadi.
Pada Maret, Pengadilan Internet Beijing mengungkap sebuah kasus di mana citra seorang aktris disalahgunakan oleh dua perusahaan yang menggunakan teknologi pertukaran wajah AI dalam sebuah drama pendek.
Pengadilan memenangkan aktris tersebut, serta memerintahkan para terdakwa untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan membayar kompensasi atas kerugian finansial yang dialaminya.
Dalam kasus lain, pengadilan memberikan dukungan kepada seorang pengisi suara dengan memutuskan bahwa penggunaan AI untuk meniru suara seseorang tanpa izin merupakan pelanggaran terhadap hak suara.
"Kemajuan AI telah memfasilitasi produksi kreatif, namun juga dieksploitasi untuk aktivitas yang melanggar hukum," ujar Ma Xiangxiang, seorang pengacara di AnJie Broad Law Firm.
Baca juga: Sony Pictures PHK Masal Ratusan Karyawan |
Ia mencatat bahwa regulator di Tiongkok telah mulai menangani penggunaan teknologi tersebut secara ilegal, terutama dalam pertukaran wajah berbasis AI pada video pendek.
Pada tanggal 2 April, komite pemain dari Asosiasi Federasi Radio dan Televisi China mengeluarkan pernyataan yang mengecam penggunaan citra dan suara aktor tanpa izin melalui pertukaran wajah AI, kloning suara, serta pengeditan atau penyuntingan ulang (remix) tanpa izin.
Komite tersebut menegaskan bahwa konten apa pun yang dikaitkan dengan aktor tertentu-baik melalui kemiripan wajah hasil AI, peniruan suara, drama dengan wajah yang ditukar, penggunaan komersial, replika virtual, maupun karya turunan lainnya-tidak akan luput dari tanggung jawab hukum, terlepas dari label atau keterangan apa pun yang dicantumkan.
(ass/ass)











































