Skandal Drama AI China dan Kasus Curi Wajah

Asep Syaifullah
|
detikPop
nonton dracin
Foto: Ilustrasi: Jelita Nurisia Fajrina
Jakarta - Industri microdrama China memang berkembang pesat sehingga produksinya pun makin gencar. Sayangnya hal ini tak dibarengi dengan kontrol yang bagus berujung kualitasnya menurun.

Apalagi baru-baru ini ramai skandal pelanggaran hak cipta dan etika setelah sebuah serial AI generatif berjudul The Peach Blossom Hairpin dituduh mencuri wajah individu nyata tanpa izin.

Kasus ini mencuat setelah Christine Li, seorang model dan influencer, menemukan kembaran digital dirinya berakting dalam drama yang ditayangkan di Hongguo, aplikasi populer milik raksasa teknologi ByteDance.

Christine Li mengungkapkan keterkejutannya saat para penggemar memberitahu tentang kemunculan sosok yang sangat mirip dengannya di aplikasi itu.

Setelah diperiksa, Li merasa yakin bahwa AI tersebut dilatih menggunakan rangkaian foto spesifik yang ia unggah ke media sosial dua tahun lalu.

"Saya benar-benar terkejut. Itu jelas saya," ujar Li kepada AFP.

"Sangat jelas bahwa mereka menggunakan set foto tertentu yang saya ambil dua tahun lalu."

Ketakutan Li bertambah ketika melihat karakter digital yang menggunakan wajahnya tersebut melakukan tindakan-tindakan buruk dalam skenario drama, seperti menampar wanita dan menyiksa binatang.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam akan rusaknya reputasi pribadi akibat penyalahgunaan teknologi deepfake.

Selain Li, seorang pria yang berprofesi sebagai penata gaya busana tradisional China juga mengalami nasib serupa. Wajahnya digunakan tanpa izin untuk memerankan karakter suami Li dalam serial tersebut.

Berbeda dengan citra aslinya di media sosial yang estetis, versi AI-nya digambarkan sebagai tokoh antagonis yang bejat. Keduanya kini bersiap menempuh jalur hukum untuk menuntut produser drama serta platform terkait atas pelanggaran hak citra diri.

Hongguo merupakan perusahaan besar dalam industri microdrama (sinetron pendek berdurasi 2-3 menit). Dengan sekitar 245 juta pengguna aktif bulanan per Oktober lalu, platform ini menjadi ladang baru bagi konten-konten hasil kecerdasan buatan.

Menanggapi kontroversi ini, pihak Hongguo merilis pernyataan pada awal April yang menyebutkan bahwa mereka telah menurunkan serial tersebut karena produser dianggap melanggar aturan platform dan kewajiban kontrak.

Namun, laporan AFP mencatat bahwa The Peach Blossom Hairpin sempat tayang selama beberapa hari setelah protes mencuat, dengan karakter yang dipersoalkan diganti secara diam-diam sebelum akhirnya benar-benar dihapus.

Kasus ini menjadi preseden penting dalam dunia hukum digital. Kemampuan AI untuk meniru manusia secara sempurna telah memicu kekhawatiran global mengenai aktor nyata terancam digantikan oleh model digital yang tidak memerlukan biaya sewa, penggunaan wajah orang biasa untuk konten propaganda, penipuan, atau karakter fiksi yang tidak bermoral.

Sehingga perlunya aturan ketat bagi perusahaan teknologi seperti ByteDance dalam memverifikasi sumber data yang digunakan oleh pengembang pihak ketiga di platform mereka.Christine Li menegaskan bahwa langkah hukumnya bertujuan untuk memberi pelajaran bagi para pengembang agar tidak semena-mena memanen data pribadi dari internet demi keuntungan komersial.

"Saya terus bertanya-tanya, orang macam apa yang tega melakukan hal seperti ini?" pungkasnya.


(ass/aay)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO