Industri perfilman Bollywood yang selama ini terkenal dengan kemegahan dan lagu-lagunya, mendadak lagi diguncang isu panas di balik layar.
Bukan soal gosip asmara atau perseteruan antar-aktor, melainkan soal budaya kerja mereka yang dinilai sudah kelewat batas dan tidak manusiawi. Saat ini, jagat sinema India lagi terbelah dua kubu gara-gara munculnya usulan radikal: membatasi jam syuting maksimal cuma 8 jam sehari.
Isu ini sebenarnya bukan barang baru, tapi mendadak meledak lagi ke permukaan setelah aktris papan atas Deepika Padukone dilaporkan mengambil keputusan berani tahun lalu.
Deepika memilih mundur, dari sebuah proyek film blockbuster bernilai jutaan dolar demi menuntut jam kerja yang lebih ramah untuk perannya sebagai seorang ibu baru.
Keputusan sang aktris langsung memicu diskusi nasional di India mengenai pentingnya work-life balance di industri kreatif.
Buat yang belum tahu, jam kerja di balik layar Bollywood itu memang terkenal sangat kejam. Satu sif syuting normalnya bisa memakan waktu 12 hingga 18 jam sehari.
Tapi dalam banyak kasus, terutama saat dikejar target tayang atau anggaran yang menipis, jam kerja bisa membengkak tanpa batas.
Aktor legendaris sekelas Shah Rukh Khan, dikabarkan pernah menjalani syuting gila-gilaan sampai 27 jam nonstop demi menyelesaikan sebuah adegan!
Budaya "kerja sampai tumbang" ini sudah lama dianggap sebagai hal biasa, bahkan sering kali diromantisasi sebagai bentuk totalitas dalam berkesenian. Bagi kubu yang mendukung reformasi jam kerja, sistem yang ada sekarang dinilai sangat diskriminatif, terutama bagi pekerja perempuan.
Aktris senior seperti Kajol, Suniel Shetty, dan Ram Kapoor secara terbuka mendukung penuh adanya batasan 8 jam kerja ini demi kesehatan mental dan fisik para pekerja film.
Menariknya, mereka juga menyoroti standar ganda yang terjadi di lokasi syuting. Selama ini, kalau ada aktris perempuan yang menuntut jam kerja yang lebih sehat atau waktu istirahat yang cukup, mereka sering kali langsung dicap "manja", "rewel", atau "sulit diajak kerja sama.
Stigma negatif ini anehnya jarang sekali disematkan kepada aktor pria jika mereka meminta hal yang sama.
Meski niatnya baik untuk kesehatan, usulan pembatasan 8 jam ini langsung mendapat perlawanan sengit dari produser dan sebagian aktor lainnya. Kelompok yang kontra menilai aturan kaku seperti itu sangat tidak realistis dan justru bisa "membunuh" kreativitas dalam pembuatan film.
Aktor Ali Fazal dan aktris Chitrangda Singh, ikut bersuara dan mengingatkan kalau syuting film itu punya dinamika yang sangat berbeda dengan kerja kantoran yang bisa pulang tenggo. Di lapangan, ada ribuan variabel yang tidak bisa diprediksi.
"Bikin film itu nggak bisa dipatok pakai jam. Kadang kita lagi nunggu momen matahari terbit yang cuma ada beberapa menit, atau tiba-tiba cuaca buruk, atau alat penunjang mendadak rusak. Kalau di tengah-tengah itu jam kerja habis dan semua orang harus bubar, filmnya nggak akan pernah selesai," ungkap argumen dari kubu penolak.
Selain masalah teknis di lapangan, alasan paling kuat yang bikin para produser ketar-ketir adalah faktor finansial alias modal. Biaya untuk memproduksi film skala besar di India itu luar biasa mahal.
Menyewa lokasi ikonik, membayar ratusan kru, menyewa peralatan kamera canggih, hingga urusan logistik bisa menghabiskan biaya lebih dari $26.000 atau sekitar Rp424 juta per hari!
Mantan pejabat Asosiasi Artis Bioskop & TV (CINEA), Amit Behl, memberikan contoh konkret yang cukup mencengangkan. Untuk film hits seperti Animal, biaya sewa satu rumah lokasi syutingnya saja bisa menyentuh angka 25 lakh rupee atau sekitar Rp428 juta per hari.
Angka fantastis itu baru untuk sewa tempat, belum termasuk biaya membayar ribuan pemain figuran, katering makanan, kebutuhan listrik, hingga tim keamanan.
Bagi para produser, menghentikan paksa proses syuting di tengah jalan hanya karena jarum jam sudah menunjukkan waktu 8 jam adalah mimpi buruk finansial. Hal itu dinilai bisa membuat anggaran film membengkak hingga dua kali lipat dan berpotensi membuat rumah produksi gulung tikar.
Hingga saat ini, perdebatan sengit di Bollywood masih terus bergulir tanpa ada titik temu yang jelas. Satu hal yang pasti, industri perfilman terbesar di dunia ini mau tidak mau harus segera berbenah jika tidak ingin kehilangan talenta-talenta terbaiknya gara-gara budaya kerja yang dianggap toxic ini.
Simak Video "Video: Respons Ifan Seventeen soal Dugaan Monopoli Bisnis Film-Bioskop RI"
(ass/wes)