Badai PHK Guncang Marvel Studios, Ada Apa Disney?

Asep Syaifullah
|
detikPop
Logo Marvel Studios
Foto: Dok. Marvel Studios
Jakarta - Industri hiburan global kembali dikejutkan oleh langkah drastis yang diambil oleh raksasa media, The Walt Disney Company.

Dilansir dari Forbes pekan ini, Disney secara resmi mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menyapu para karyawan di seluruh lini bisnis holding medianya.

Kebijakan ini menyasar sektor-sektor vital mulai dari studio film, jaringan televisi, divisi olahraga, hingga unit bisnis experiences.

Melalui memo internal yang diedarkan oleh CEO baru Disney, Josh D'Amaro, langkah menyakitkan ini diklaim sebagai strategi krusial untuk "menyederhanakan operasional" serta merestrukturisasi manajemen keuangan perusahaan di tengah lanskap media yang kian tidak menentu.

Namun, kejutan terbesar dari pengumuman ini adalah betapa dalamnya hantaman yang diterima oleh anak emas mereka: Marvel Studios.

Pengurangan staf di tubuh Marvel terjadi secara masif di dua roda penggerak utama mereka, yaitu kantor New York dan Burbank. PHK ini melumpuhkan hampir seluruh aspek organisasi, termasuk departemen produksi film dan televisi, divisi komik, manajemen waralaba hingga departemen finansial dan hukum.

Dampak yang paling memilukan dan memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku industri adalah keputusan Disney untuk merumahkan hampir seluruh anggota tim pengembangan visual Marvel Studios.

Tim yang terkena dampak ini adalah kumpulan seniman pemenang penghargaan, ilustrator, desainer karakter, desainer latar (environment designers), serta spesialis teknis kelas dunia.

Merekalah "otak estetika" yang bertanggung jawab menciptakan cetak biru visual dari seluruh waralaba besar Marvel Cinematic Universe (MCU) mulai dari kemegahan era The Avengers, keunikan kosmik Guardians of the Galaxy, hingga pendekatan pragmatis dalam serial Daredevil.

Tragisnya, mayoritas dari para kreator ini telah mendedikasikan hidup dan kreativitas mereka di Marvel selama lebih dari satu dekade.

Kini, departemen visual yang legendaris tersebut dilaporkan hanya menyisakan segelintir staf produksi purnawaktu berskala kecil. Sisa tim ini hanya akan berfungsi sebagai koordinator administratif untuk merekrut kembali tenaga kerja lepas (freelance) atau agensi luar berdasarkan proyek yang sedang berjalan (per-project basis).

Beberapa seniman senior yang terdampak dikabarkan akan ditawari transisi status dari karyawan tetap menjadi kontraktor independen tanpa jaminan jangka panjang.

Bagi para pengamat industri, keputusan merestrukturisasi Marvel Studios sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan, melainkan puncak dari gunung es masalah yang telah menumpuk.

Setelah beberapa tahun terakhir MCU dibanjiri kritik akibat penurunan kualitas CGI dan kejenuhan penonton (superhero fatigue) akibat terlalu banyaknya rilisan film dan serial di Disney+, manajemen pusat mengambil tindakan tegas.

Marvel Studios sebelumnya memang telah mengumumkan rencana pemotongan skala produksi secara drastis demi mengembalikan fokus pada kualitas narasi dan visual. Ketika proyek yang diproduksi berkurang, otomatis kebutuhan akan staf tetap dalam jumlah besar ikut menurun.

Di bawah kepemimpinan Josh D'Amaro, Disney sedang berada dalam tekanan besar dari para pemegang saham untuk memangkas biaya operasional pasca-era pandemi dan perang streaming.

Marvel, yang selama ini dikenal sebagai divisi dengan anggaran belanja produksi paling jor-joran, menjadi target utama efisiensi.

Menariknya, laporan internal mengonfirmasi bahwa PHK di tubuh Marvel ini murni didorong oleh restrukturisasi finansial dan strategi korporat.

Berbeda dengan gelombang pemangkasan di sektor industri kreatif lain-seperti periklanan dan video game-yang mulai digantikan oleh efisiensi Kecerdasan Buatan (AI), posisi para seniman Marvel yang dirumahkan tidak digantikan oleh teknologi otomatisasi.

Langkah raksasa Hollywood ini memicu perdebatan sengit mengenai masa depan kesejahteraan pekerja kreatif di industri film. Pergeseran dari sistem karyawan tetap (full-time) menjadi sistem kontrak berbasis proyek dinilai menguntungkan bagi korporasi dari segi efisiensi anggaran, namun di sisi lain menciptakan ketidakpastian ekonomi yang berat bagi para seniman.

Kabar buruk ini langsung menjadi topik panas di kalangan profesional seni global sejak Selasa sore, memicu gelombang solidaritas di media sosial seiring dengan laporan yang mulai dirilis oleh berbagai media dagang terkemuka di Hollywood.

Menyadari kebijakan ini akan memicu gelombang kekecewaan dan penurunan moral karyawan, CEO Josh D'Amaro mencoba memberikan pandangan dari sudut pandang bisnis melalui memonya.

"Saya tahu ini adalah masa-masa yang sangat berat bagi kita semua," tulis D'Amaro dalam memo internalnya kepada staf Disney.

"Keputusan-keputusan sulit ini sama sekali bukan merupakan refleksi dari kualitas kontribusi yang telah mereka berikan selama ini, ataupun cerminan dari melemahnya kekuatan perusahaan kami secara keseluruhan."

D'Amaro menambahkan, "Sebaliknya, langkah ini mencerminkan evaluasi berkelanjutan kami tentang bagaimana cara mengelola sumber daya perusahaan secara lebih efektif, sehingga kami dapat berinvestasi kembali ke dalam lini bisnis kami dengan lebih tepat sasaran di masa depan."

Langkah ekstrem yang diambil Disney ini menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan dan pola kerja di Hollywood telah berubah secara permanen.

Era keemasan di mana studio-studio besar mempertahankan ribuan staf kreatif internal dengan anggaran tak terbatas tampaknya telah berakhir, digantikan oleh era baru yang lebih ramping, kalkulatif, dan berbasis efisiensi ketat.


(ass/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO