Round Up
Polemik Seiyu Kenjiro Tsuda Vs TikTok Gegara Suara
Dalam gugatan hukumnya, Kenjiro Tsuda menuntut agar TikTok menghapus konten-konten ilegal berbentuk teknologi kecerdasan buatan. Ia juga tegas bilang kalau video itu melanggar hak publisitas, dan diduga telah mengambil keuntungan yang signifikan.
Dilansir dari berbagai sumber, Kenjiro Tsuda merasa suaranya ditiru tanpa izin melalui berbagai konten video AI yang beredar luas di platform TikTok. Ia menduga suaranya mulai dipakai sejak awal 2024.
Tim kuasa hukum Kenjiro Tsuda menduga akun-akun anonim itu mendapatkan cuan dari memakai suaranya sekitar 750 ribu yen per bulan atau Rp 83 juta.
Gugatan ini telah didaftarkan tim kuasa hukum Kenjiro Tsuda melalui Pengadilan Distrik Tokyo sejak November 2025. Di platform TikTok, diduga ada ratusan video yang diunggah oleh akun anonim yang mereplikasi suara sang aktor.
Suara itu, menurutnya, adalah miliknya dan dipakai secara ilegal tanpa izin dari pihaknya maupun agensi yang menaunginya. Tsuda dikabarkan mengumpulkan bukti sampai 180-an video.
Ia juga menyayangkan narasi yang ada di video adalah hasil AI, dan gak murni disuarakan olehnya. Ada banyak narasi dalam video yang dipakai secara ilegal dan diduga bakal menyesatkan publik, mulai dari fakta unik sampai legenda rakyat yang mistis.
Tanggapan TikTok
Pihak TikTok akhirnya menanggapi gugatan Kenjiro Tsuda, seiyu Seto Kaiba dalam serial Yu-Gi-Oh! tersebut. Dilansir dari NHK, Selasa (26/5/2026), platform itu mengklaim video yang beredar cuma suara pria biasa.
TikTok juga menegaskan yang dipermasalahkan Kenji Tsuda memang bukan suara aslinya. Mereka lalu bilang suara dalam video gak melanggar hak publisitas Tsuda dan menolak gugatan tersebut.
Tanggapan TikTok mengusik para penggemar Kenjiro Tsuda. Mereka menilai platform itu gak masuk akal.
"Nada vokal unik seorang pengisi suara adalah aset mutlak mereka, dan tidak masuk akal untuk mengklaim suara yang begitu khas sebagai 'biasa'," tulis seorang netizen.
FYI, Kementerian Kehakiman Jepang membentuk komite peninjauan khusus pada April 2026 untuk membahas kondisi di mana tanggung jawab atas kerugian dapat ditetapkan ketika konten AI dibuat menggunakan wajah atau suara seseorang tanpa persetujuan. Kasus ini masih bergulir sampai sekarang.
(mau/aay)











































