Miranda Priestly yang diperankan oleh Meryl Streep mungkin bukan karakter seterkenal Harry Potter atau pahlawan mana pun dari katalog Marvel. Tapi pecinta sinema sejati pasti tahu bahwa Miranda Priestly bukanlah karakter yang biasa.
Ia adalah penjahat yang mempunyai hati.
Ia membuat Andy (Anne Hathaway) dan Emily (Emily Blunt) pontang-panting tapi pada saat yang bersamaan ia membuat mereka menjadi sosok yang lebih kuat. Siapa pun yang lolos Miranda akan berhasil.
Kita semua, terutama saya, mungkin tidak sadar betapa fenomenalnya The Devil Wears Prada. Dirilis 20 tahun lalu, film yang diadaptasi dari novel karya Lauren Weisberger (yang konon memang pernah menjadi asisten Anna Wintour beneran) membuktikan bahwa ia tidak hanya menjadi salah satu adaptasi film terbaik, tapi juga salah satu film yang tidak terkekang zaman. Ditonton sampai kapan pun, film tersebut terasa tetap fresh. Semua jokes-nya tetap lucu, semua momen fashion-nya tetap mempesona, setiap adegan dramatisnya tetap menyentuh hati.
The Devil Wears Prada bukan hanya berubah menjadi sebuah warisan budaya pop paling mentereng tapi juga menjadi salah satu legenda yang dinantikan kelanjutannya.
20 tahun kemudian, angan-angan itu tercapai.
Review The Devil Wears Prada 2
The Devil Wears Prada 2 dibuka dengan Andy, yang sekarang bekerja sebagai jurnalis di sebuah surat kabar, dan timnya yang mendapatkan kabar bahwa mereka dipecat. Kabar buruk ini menjadi semakin ironis tidak hanya karena pemberitahuan itu mereka dapatkan via text tapi juga ketika mereka semua sedang mendapatkan penghargaan atas integritas mereka sebagai jurnalis.
Runway, majalah yang diurus oleh Miranda Priestly, sementara itu sedang menghadapi masalah kecil yang mungkin bisa menjadi masalah besar. Sebuah artikel membuat mereka kehilangan hormat dari pembaca sekaligus calon pengiklan. Bagaimana cara mengembalikan image mereka yang bening? Panggil Andy Sachs kembali ke Runway.
Baca juga: Mother Mary: Tebusan Dosa Si Supernova |
Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak ada alasan yang benar-benar penting untuk menghadirkan sekuel film ini. Tidak hanya 20 tahun adalah waktu yang lama, tapi juga karena film pertamanya sudah ditutup dengan baik. Perjalanan Andy sebagai karakter sudah komplet. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Tapi tentu saja harus ada yang memberi makan para penggemar fanatik film pertamanya. Berita baiknya, The Devil Wears Prada 2 tidak seburuk kebanyakan sekuel yang dibuat karena proyek nostalgia.
Salah satu faktor yang membuat film ini lebih berkelas daripada para 'legacy sequel' itu adalah kembalinya semua orang penting. Baik orang-orang di depan layar seperti Stanley Tucci yang kembali menjadi Nigel, sampai orang di belakang layar. Semuanya kembali: sinematografer Florian Ballhaus merekam film ini, Aline Brosh McKenna menulis dan David Frankel duduk lagi menjadi sutradara.
Di film ini, McKenna memberikan masalah yang nyata bagi Andy dan Miranda. Seperti yang kita ketahui bersama, dunia fashion dan jurnalistik sudah sangat berbeda semenjak film pertamanya dirilis. Tidak ada lagi orang yang mau membeli majalah cetak. Semuanya ada di internet. Semua angka insights itu penting. Dan itulah yang menjadi masalah paruh pertama film ini.
Tugas Andy adalah untuk meyakinkan Miranda bahwa ia bisa mengembalikan kejayaan kembali Runway dan juga menunjukkan bahwa keberadaannya adalah bukan kesia-siaan.
Masalah berikutnya yang dibahas oleh McKenna adalah ikut campurnya orang-orang tech di dunia yang tidak mereka pahami hanya karena mereka memiliki uang yang sangat banyak. Dalam film ini diwakilkan oleh Benji (Justin Theroux) yang kelakuannya terlalu kurang cantik (alias kasar sekali) yang membuatnya terlihat semakin mencolok di antara orang-orang good-looking yang ada di film ini.
Meskipun The Devil Wears Prada 2 mempunyai isu dan alasan yang agak lebih make sense dibandingkan kebanyakan 'legacy sequel' yang lain, film ini ternyata masih terjebak dengan ritual-ritual pengingat yang biasa dilakukan film-film sejenis.
Frankel dan para produser film ini menghadirkan berbagai adegan-adegan yang mirip dengan film pertamanya untuk mengingatkanmu bahwa ini adalah dunia yang sama dengan film yang kamu cintai 20 tahun lalu.
Filmnya dibuka dengan Anne Hathaway menghapus uap dari kaca, Nigel mengatai makanan pilihan Andy di kafetaria, Nigel memberikan pilihan baju untuk Andy sampai babak ketiga yang dilakukan di kota eksotis di Eropa.
The Devil Wears Prada 2 memang bukan film sempurna. Secara beat, film ini sangat mengikuti ritme film pertamanya, bahkan sampai ending. Tapi sebagai sebuah hiburan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan sebagai sebuah sekuel, ia berhasil tidak mencemari nama baik film pertamanya.
Itu saja sudah jadi sebuah keajaiban.
The Devil Wears Prada 2 dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
| Genre | Comedy, Drama |
| Runtime | 119 menit |
| Release Date | 29 April 2026 (Indonesia) |
| Production Co. | Wendy Finerman Productions |
| Director | David Frankel |
| Writer | Aline Brosh McKenna |
| Cast | Meryl Streep |
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
(mg1/aay)