Round Up
Asosiasi Industri Film Kecam Protes-Penyerangan Aktor The Assassin(s)
Sorotan di industri film Korea Selatan sedang tertuju pada film The Assassin(s). Karya sutradara Hur Jin Ho ini menuai kontroversi dan respons keras dari kalangan oposisi, menilai film tersebut mendistorsi sejarah.
Respons keras gak cuma mengalir di media sosial, tapi juga di dunia nyata. Salah satu aktor utamanya, Yoo Hai Jin, jadi target protes oleh mereka yang merasa gak suka dengan semua yang tersaji dalam The Assassin(s).
Aksi protes dan kritik keras terhadap Yoo Hai Jin sampai mengancam keselamatan sang aktor. Bahkan penampilannya bersama cast dan sutradara The Assassin(s) di gelaran Busan International Film Festival 2026 harus dibatalkan.
Parahnya lagi, Yoo Hai Jin jadi target penghinaan online. Banyak unggahan di internet menyerang dan menyudutkannya sampai agensi harus pasang badan membela aktor yang juga sukses lewat The King's Warden itu.
"Kami menanggapi dengan sangat serius pembuatan dan penyebaran informasi palsu tentang aktor kami, serangan jahat terhadap reputasi serta penghinaan, maupun segala tindakan yang melanggar privasi, mengancam keselamatan pribadi, atau mencemarkan nama baik aktor kami. Kami akan terus memantau secara berkala tindakan yang melanggar hak pribadi dan keselamatan aktor kami, serta akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap setiap insiden yang kami temukan," kata VAST Entertainment dalam sebuah pernyataan resmi.
Yoo Hai Jin juga dibela oleh asosiasi industri film Korea Selatan. 19 koalisi pegiat industri mulai dari sutradara, sinematografer, pengarah seni, festival film, hingga pemilik bioskop, bersatu dan mengecam aksi protes yang ditujukan buat The Assassin(s).
Dalam pernyataan mereka dilansir dari Korea JoongAng Daily, mereka menyatakan bahwa diskusi terkait film seharusnya tidak sampai mengancam kehidupan dan keamanan pemerannya.
"Ketika sebuah karya mengangkat peristiwa sejarah nyata, berbagai keberatan dan perdebatan publik dapat muncul terkait interpretasi serta penggambaran peristiwa tersebut. Rasa sakit dan kekhawatiran yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan serta mereka yang mengingat masa itu juga patut dihormati. Namun, kritik terhadap suatu karya dan tekanan terhadap individu harus dibedakan secara jelas," bunyi pernyataan tersebut.
"Penilaian terhadap sebuah karya merupakan hak penonton dan masyarakat. Kehidupan sehari-hari maupun keselamatan seseorang tidak boleh terancam hanya karena mereka terlibat dalam suatu karya atau menyuarakan pendapat mengenainya. Kami akan bersatu agar tidak ada individu yang harus menanggung ancaman dan tekanan seorang diri," tegas mereka.
Film Korea Selatan The Assassin(s) Foto: Hive Media Corp |
Berlatar pada 15 Agustus 1974, saat upacara Hari Pembebasan di Seoul. Seorang pria melepaskan tembakan ketiga Presiden Park Chung Hee berpidato.
Presiden selamat, tetapi Ibu Negara Yuk Young Soo dan seorang gadis muda tewas karena tembakan itu. Pelakunya, Mun Se Gwang, warga Korea di Jepang, langsung ditangkap.
Setelah kejadian itu, detektif Cheol Gu (Yoo Hai Jin), editor surat kabar kota Jae Hwan (Park Hae Il), dan seorang wartawan pendatang baru Young Il (Lee Min Ho), mempertanyakan hasil investigasi resmi dari insiden penembakan itu.
Mereka memperdebatkan soal fakta enam tembakan yang terdengar saat kejadian. Padahal pistol Mun Se Gwang hanya berisi lima peluru. Setiap pertanyaan dibalas tuduhan komunis dan perintah untuk menghentikan investigasi.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan

