Cerita Diaz Parzada Koleksi Patung Alicja Kwade-Abenk Alter

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Diaz Parzada dengan karya Alexander Sebastianus yang berjudul Particles of From - Stones (2023)
Potret Diaz Parzada dengan karya Alexander Sebastianus yang berjudul "Particles of From - Stones (2023)". Foto: Dok.Diaz Parzada/ Istimewa
Jakarta - Di antara deretan kolektor karya seni, ada nama Diaz Parzada yang mulai mengoleksi sejak usia 28 tahun. Ratusan karya seniman Indonesia dan mancanegara dikoleksinya dan kini disimpan di kediaman pribadi maupun kantornya.

Bagi Diaz, semua karya semuanya disukainya namun ada satu karya yang paling memorable dan punya makna. Artwork itu ciptaan perupa kontemporer asal Polandia dan Jerman, Alicja Kwade.

Pada 2019, saat menyambangi ArtBasel Basel di Swiss, Diaz mendapatkan patung karya seniman kelahiran 1979 seniman.

"Saya 'mendapatkan' karya patung Alicja Kwade di galeri Kammel Mennour di ArtBasel Basel, Swiss pada 2019 merupakan momen yang sangat berbeda ketimbang saat 'menerima' karya ini setahun kemudian dimana pandemi sedang melanda dunia," katanya saat diwawancarai redaksi detikcom.

Menurut Diaz, patung itu menggunakan rongga peluru di Tembok Berlin sebagai 'cetakan' patung perunggunya. Ada hubungan yang terasa 'kebetulan'. "Korelasi yang 'kebetulan' ini masih terasa sangat signifikan bagi saya setiap kali saya melihatnya," ungkap Diaz.

Tak hanya patung itu saya yang terasa bermakna, namun Diaz juga cerita ada dua karya Abenk Alter yang dibelinya dari RUCI Art Space yang memorable lainnya. Judulnya Bapak Langit dan Ibu Bumi yang penuh dengan goresan kontemporer dan khas cirinya sekali.

Yang jadi unik, Abenk Alter membuatnya dengan teknik batik tradisional pewarnaan alam yang dikerjakan bersama peneliti batik dan Direktur Institut Pluralisme Indonesia, William Kwan Hie Liong.

"Berbagai elemen dalam penciptaan dan hasil akhirnya, mambuat karya ini senantiasa menginspirasi kehidupan pribadi dan kegiatan professional saya," katanya.

Esok hari saat opening Art Jakarta 2026, Diaz rencananya bakal datang dan melihat karya seni kontemporer yang memakai material daur-ulang dengan pakai teknik tradisional serta dibuat seniman yang jadi bagian dari komunitas marjinal.

"Banyak sekali koleksi saya yang saya dapatkan di Art Jakarta dan hampir seluruh koleksi saya didapatkan dari galeri yang berpartisipasi di Art Jakarta," tukasnya.

Jangan ketinggalan ulasan tentang kolektor seni di artikel berikutnya!

(tia/pus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO