Tren Koleksi Karya Seni Merambah ke Generasi Muda
Di Indonesia, art fair sebagai pasar jual-beli mulai berjamuran. Dimulai dari Art Jakarta yang eksis digelar setiap tahun dan kini ada Art Jakarta Papers serta Art Jakarta Gardens, selalu melahirkan beragam kolektor muda.
Menuju Art Jakarta 2026 yang bakal dibuka pada 2 Oktober, redaksi detikpop bakal mengulas tren mengoleksi seni yang semakin banyak memunculkan nama-nama kolektor baru. Salah satunya yang dialami oleh Catherine Halim yang mulai mengoleksi sejak tahun 2017.
Gara-gara seorang sahabatnya jadi seniman, ia mulai membeli karya seni tersebut namun secara resmi pada tahun 2024.
Di masa sekarang, menurut perempuan yang akrab disapa Cath mengatakan seni kini menjadi respons terhadap lingkungan sekitar.
"Menurutku seni adalah respons terhadap lingkungan sekitar kita sekaligus cara untuk mengabadikan sejarah. Sekarang, seni juga jadi jauh lebih mudah diakses karena banyak dari kita mulai menyadari bahwa seni nggak harus selalu mahal," ungkapnya saat dihubungi redaksi detikcom.
Sepanjang masanya sebagai kolektor, karya yang paling memorable buatnya adalah ciptaan seniman asal Yogyakarta Uji 'Hahan' Handoko. Cath ngaku sudah lama kepengin mengoleksi karya Hahan tersebut.
"Yang sering aku temui, karya seni Mas Hahan cenderung besar dan karena ada "space constraint", ukuran karya menjadi salah satu pertimbangan untukku," sambungnya.
Sementara itu, Diaz Parsada yang kini bekerja sebagai konsultan pengembangan bisnis untuk beberapa jenama mode dan jenama kecantikan juga mulai mengoleksi sejak usia 28 tahun.
"Awalnya saya mengoleksi karya seni adalah untuk mengisi rumah pribadi saya atas rekomendasi desainer interor yang bekerjasama dengan saya saat itu," ungkapnya.
Selama 14 tahun jadi kolektor seni, Diaz sudah mengoleksi hampir 500 karya seni. Sebagian besar adalah karya seni individual yang ukurannya gak terlalu besar. Ia menyebutkan seperti karya seni Aditya Novali dan Syaiful 'Tepu' Garibaldi yang didapatkan dari ROH Projects dengan masing-masing berjumlah 30 karya.
Menurut Diaz, di masa sekarang semakin banyak orang yang kini mengoleksi karya seni karena keberadaannya sudah menjadi kebutuhan hidup dalam keseharian mereka.
"Dan dan dalam mengoleksi karya seni, sisi 'investasi' tak lagi menjadi penentu, namun 'shared value' dari seniman dan karya itu sendiri yang menjadi pertimbangan utama," terangnya.
Kini selama beberapa tahun terakhir, Diaz mengutamakan mengoleksi karya seni yang pakai material daur-ulang atau daur-naik.
"Saya beruntung bisa mendapatkan karya Tamarra dan Abyu Amanda Aldi dari Rubanah Underground Hub, Isabel & Alfredo Aquilizan dari Drawing Room, Ari Bayuaji dari Warin Lab, Ines Katamso dan Alexander Sebastianus dari ISA Art, Meliantha Mulyawan dan Kanoko Takaya dari ArtSphere, Rega Ayundya Putri dari RUCI Art Space, Sarita Ibnoe dari Puri Art, dan Gatot Pudjiarto dari Jagad Gallery," katanya.
Bulan ini, Diaz baru saja membeli 20 buah patung lunak (soft-sculpture) karya Suanjaya Kencut yang ia kayakan dari hasil kain-kain perca sebuah jenama mode ternama.
Jangan ketinggalan ulasan tentang kolektor seni di artikel berikutnya!
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
